Doa Bapa Kami

August 5th, 2008

Prolog:

Doa Bapa Kami adalah satu-satunya doa yang diajarkan oleh Yesus Kristus sendiri. Doa ini diajarkan pada saat “Kotbah di Bukit” dan dipandang sebagai doa yang paling sempurna. Kata-katanya pendek dan sederhana, namun mampu mensintesiskan ajaran para nabi dan rasul dari Perjanjian Lama sampai ke Perjanjian Baru.

Meski sudah diulang-ulang selama lebih dari 2000 tahun, doa ini tetap indah dan relevan bagi umat manusia. Saat ini, doa ini sudah diterjemahkan ke lebih dari 1442 bahasa dan dialek di seluruh dunia. Beberapa di antaranya dikutip di bawah ini.

Indonesia: “Bapa Kami” (1)
(versi Katolik - Missale Romanum)

Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah Nama-Mu
Datanglah Kerajaan-Mu,
Jadilah kehendakmu, di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rezeki pada hari ini
dan ampunilah kesalahan kami
seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami
dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
(Sebab Engkaulah raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya)
Amin.

Indonesia: “Bapa Kami” (2)
(Matius 6: 9-13)

Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah Nama-Mu
Datanglah Kerajaan-Mu,
Jadilah kehendakmu, di bumi seperti di surga.
Berilah pada kami hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan
tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat
(Karena Engkaulah yang empunya kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan
sampai selama-lamanya)
Amin.

Jawa: “Rama Kawula”

Rama kawula in swarga, Ashma Dalem kaluhurna,
Kraton Dalem mugi rawuha,
Karsa Dalem kalampahana wonten in donya kados ing swarga.
Kawula nyuwun rejeki kangge sapunika
Sakathaning lepat nyuwun pangapunten Dalem, kados dene anggen kawula ugi ngapunten dhateng sasami
Kawula nyuwun tinebihna saking panggodha
saha linuwarna saking piawon
(Awit Dalem menika ingkang ngereh samukawis, ingkang kagungan pangwaos saha Ratu ingkang mulya ing selaminipun)
Amin.

Batak Toba: “Ama Nami”

Ale Ama nami na di banua ginjang, sai pinorbadia ma Goar-Mu
Sai ro ma Harajaon-Mu, sai saut ma lomo ni Roham,
di banua tonga on, songon na di banua ginjang.
Lehon ma di hami sadari on hangoluan siapari,
sesa ma dosa nami, songon panesa nami didosa ni dongan na mardosa tu hami,
unang ma togihon hami tu pangunjunan,
palua ma hami sian pangango
(Ai Ho do nampuna Harajaon, dohot Hagogo on, rodi Hasangapon saleleng ni lelengna)
Amen.

English: “Lord’s Prayer”

Our Father, who are in heaven, Hallowed be Thy Name,
Thy Kingdom come, Thy will be done, on earth as it is in heaven.
Give us this day, our daily bread
and forgive us our trespasses as we forgive those who trespass against us
and lead us not into temptation
but deliver us from all evil.
(For Thine is the Kingdom, and the Power, and the Glory, forever)
Amen.

Latin: “Pater Noster”

Pater noster, qui es in caelis:
sanctificetur Nomen Tuum;
adveniat Regnum Tuum;
fiat voluntas Tua,
sicut in caelo, et in terra.
Panem nostrum cotidianum da nobis hodie;
et dimitte nobis debita nostra,
Sicut et nos dimittimus debitoribus nostris;
et ne nos inducas in tentationem;
sed libera nos a malo
(Quia tuum est regnum, et potestas, et gloria in saecula)
Amen.

******

Epilog:

Seseorang bertanya kepada Sang Guru. “Guru, hukum manakah yang terutama?”

Sang Guru menjawab: “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada dua hukum itulah, tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”

Paiton, 21 Juni 2008

==================================

Catatan:
1) Bagian di dalam kurung disebut doksologi
2) Pranala luar (external links):

Ces’t La Vie

August 5th, 2008

Seorang gadis kenalanku bercerita bahwa ia tidak ingin mendapatkan suami dari lingkungan rumah tinggalnya. Alasannya ia tidak ingin dinikahi oleh pria lokal karena adat di situ mengharuskan seorang laki-laki membawa perabot lengkap saat memasuki rumah si perempuan (lemari, meja rias, dipan, kursi tamu dan lain-lain), sehingga menjadi beban bagi si lelaki.

Adat yang sama juga mengizinkan si suami mengangkuti perabotan tersebut jika suatu hari mereka bercerai. Gadis ini berkata bahwa ia ingin menikah dengan salah satu dari pria pendatang yang banyak bekerja di kecamatan kami. Hidup tenang berkecukupan tanpa banyak aturan adat.

Sebagian dari kita merasa tidak beruntung karena tidak memiliki banyak pilihan di dalam hidup. Dijodohkan atau menikah

muda pada saat kita masih ingin menjalani cinta monyet. Memiliki anak di usia kencur padahal diri masih menginginkan kesenangan remaja. Saat memiliki anak satu, datang lagi pertanyaan ‘kapan nambah adiknya’. Hidup dalam belitan utang dan kepedihan hidup. Mengayuh sepeda saat orang-orang di sekeliling menaiki sepeda motor, bahkan mobil. Berkhayal setiap hari, kapankah kesusahan ini akan berakhir. Merasa bagaikan ternak yang digiring memasuki keadaan yang tidak dipahami apalagi diinginkan.

Pernahkah kita berpikir apa yang akan kita lakukan jika kesusahan-kesusahan itu tidak menghampiri hidup kita. Hidup berkecukupan bahkan berlimpah. Tidak ada utang di toko karena setiap saat kita sanggup membayar tunai. Tinggal di rumah yang luas dengan lingkungan yang menyenangkan: tidak berpagar tetapi aman dan jauh dari telinga tetangga, rumputnya hijau dan anak-anak kecil bisa bersepedaan dengan leluasa. Memiliki kekasih dan teman-teman yang pengertian, yang mau menjadi pendengar kita yang baik, tidak pernah menyanggah apa pun yang kita katakan. Kapan pun kita mau, kita bisa berhenti bekerja dan tidur dengan nyaman di rumah atau di tempat wisata. Makan di luar atau pun berbelanja bisa menjadi acara sehari-hari.

Ketika kita memiliki segalanya, akankah kita membuat keputusan-keputusan yang bijak. Jika kita melihat ke sekeliling, banyak kerusakan ditimbulkan oleh orang yang terlalu banyak waktu luang, terlalu sedikit olah fisik dan terlalu banyak kesempatan.

Every person must live his/ her whole life. Hidup yang penuh.
Berbahagia di dalam jiwa dan pikiran. Jika kita tidak kaya, marilah berbahagia saat kita berusaha menjadi kaya. Bersyukurlah jika masih ada yang lebih hebat dari kita, karena itu memberikan arah bagi kita untuk menjadi lebih baik. Percayalah, membosankan berada di atas sana jika kita tidak bersusah payah untuk mencapainya. Jika ada lift menuju puncak Mount Everest, akan hilanglah kenikmatan berada di puncak, tak peduli bagaimana spektakulernya hamparan pemandangan.

Seorang wanita muda di desa kecil di Indonesia mungkin tidak akan pernah berpikir untuk tidak menikah dan mempunyai anak karena itulah dunia yang diketahuinya. Seorang wanita lajang yang berpenghasilan Rp 50 juta sebulan mungkin bertanya-tanya apa perlunya mencari pendamping hidup jika ia sudah tidak membutuhkan pencari nafkah. Siapa yang lebih bahagia dari keduanya? Jangan-jangan bukan keduanya. Yang miskin ingin kebebasan finansial, yang kaya ingin cinta tak bersyarat.

Tak usah menghujat jika Nasib membawa kesakitan bagi jiwamu, memang sudah tugasnya begitu. Mari rayakan perjuangan hidup kita, setiap harinya. Tertawa ketika bisa, menangis ketika ingin. Berbahagia setiap saat.

Paiton, 5 Agustus 2008

Perceraian

July 11th, 2008

Hal perceraian tidak akan terbayang oleh dua sejoli yang sedang dimabuk asmara. Bagi mereka, dunia adalah milik berdua dan segala konflik pasti bisa terselesaikan dengan cinta yang mereka miliki. Mungkin bila mereka memandang orang lain yang sedang bertengkar, dalam hati kecilnya mereka berkata, kami beda, kami tidak akan seperti itu, kami akan lebih baik dari orang-orang sebelum kami.

Dalam rumah tangga, adalah mustahil untuk 100% bebas konflik. Konflik bisa frontal, bertengkar mulut, melontarkan kata-kata pedas untuk menyakiti pasangan. Ada yang keterlaluan hingga baku fisik. Ada yang melakukan emotional blackmail, merajuk dan tidak mengacuhkan pasangan, memasang wajah beku ketika diajak bicara. Ada yang kelihatannya diam dan menurut, tetapi dalam hatinya menabung rasa pedih sampai akhirnya hati menjadi tawar. Ada sedikit yang mampu bijak, memasang telinga dan berbicara hanya saat perlu.

Pernah aku mendengar berita pernikahan artis dan aku berpikir: alangkah idealnya. Sama-sama berpendidikan, dari latar belakang suku & agama sama. Yang wanita cantik, anggun, penulis yang ternama, sementara yang pria bersuara indah dan berpenampilan menawan. Ketika dulu mereka memutuskan untuk beralih keyakinan, sempat kupikir: mereka tentu tahu apa yang mereka lakukan. Mungkin pemahaman mereka terhadap yang ilahi sudah melampaui tatanan yang mampu dijelaskan oleh agama-agama yang sudah mapan sehingga mereka mengambil keputusan demikian drastis. Cinta mereka telah begitu dewasa sehingga mereka berani mengambil keputusan yang pastinya mengecewakan keluarga dan orang-orang terdekat. Ketika akhirnya meruak berita mereka akan bercerai, rasanya ada tendangan balik. Ah, rupanya hanya sebegini.

Aku pernah berada dalam sebuah hubungan yang buruk dan tidak dewasa. Oksigen seakan menghilang dari udara saat bersama. Hati seakan tertekan seperti bekerja dan dikejar tenggat waktu, hanya saja ini jenis tekanan yang tak kundung pergi meski malam telah berganti. Berpisah adalah jalan yang terbaik bagi dua remaja yang baru saling menjajaki dan tidak menemukan kecocokan. Tidak ada keraguan mengenai hal ini karena tidak ada hal-hal penting yang dipertaruhkan. Bahkan jika keperawanan/ keperjakaan telah dilalukan dan nama baik keluarga dipertaruhkan, aku berani mengatakan jangan memasuki jenjang pernikahan yang tidak kau kehendaki dan yang tidak kau yakini akan mampu kau pertahankan hingga ajalmu. Prek dengan pandangan orang!

Bagaimana jika kita telah menikah. Tiap religi punya pandangannya sendiri. Setiap pasangan yang menerima mutlak keyakinannya niscaya tidak akan terombang-ambing ketika harus mengambil keputusan lanjut atau pisah. Hanya saja kebanyakan dari kita adalah makhluk pembimbang, yang mengkritisi segala sesuatu termasuk urusan jodoh. Jika hasrat hati tidak sejalan dengan norma, gejolak dan keraguan adalah pasti. Haruskah kita bertahan. Atau mengambil langkah ekstrim: meninggalkan segala sesuatu yang dikenal demi sebuah lembaran baru.

Alangkah mudahnya berkata: aku minta cerai. Alangkah beratnya untuk mengajak berbicara dan meminta maaf. Sungguh cinta kerap kalah dengan harga diri. Saranku: bertahan dan berbuatlah sesuatu. Bukan karena anak. Bukan karena ketergantungan ekonomi. Bukan karena takut kesepian. Melainkan demi pendewasaan diri dan pendewasaan iman. Perjalanan hidup manusia kerap merupakan pengulangan dari langkah masa lalu. Ibarat pecandu narkoba yang jatuh dan jatuh lagi pada lubang yang sama. Bergantunglah pada yang Ilahi untuk kekuatan. Kekuatanmu sendiri hanya seberapa sel tubuhmu mampu menahankannya. Kalau pun harus berpisah, bertahanlah dalam kesendirianmu hingga kau mencapai kematangan yang memampukanmu bercinta tanpa mengungkit masa lalu.

Maka, selamat bertahan, dan selamat bercinta.

Paiton, 12 Juli 2008

* untuk sahabat tersayang yang sedang menjalani pergumulannya

Takkan Hilang

July 5th, 2008

Pernahkah kamu mendengar sebuah lagu dan rasanya semua inderamu terhenti bekerja? Seperti menekan tombol pause di media player, waktu seolah membeku sesaat.
Ada lagu-lagu tertentu yang membuatku seperti itu. Lagu Dewa 19 - Kangen misalnya, mengingatkan aku pada masa-masa sma, saat berkumpul bersama rekan-rekan satu unit kerohanian. Lagu KLA Project - Yogyakarta menyegarkan kembali kenangan ketika aku suka naik kereta api ekonomi cap embek untuk bertandang ke rumah Tyas di Gowongan Lor. Bruce Springteen - Fire and Whitney Houston - I Wanna Dance with Somebody remind me how life could be so much fun and musical! Aerosmith - I Don’t Want to Miss A Thing, Guns N’ Roses - November Rain, Emilia - Big Big World, menandai masa-masa biru nan sendu. Ah!
Sedihnya, aku tidak punya lagu semacam itu bersama pria terkasih. Selera kami berbeda. Pria terkasih suka lagu-lagu baladanya Ebiet G. Ade, petikan gitarnya Jose Feliciano, sementara aku suka musik melo, rock, atau sekalian disco. Hmm.

Dulu waktu kami akan menikah, sempat kuajukan untuk menyanyi bersama saat resepsi. Pilihannya Somethin’ Stupid versi Robbie Williams & Nicole Kidman, atau KLA - Cinta Putih. Sayang, karena lagunya susah lagipula sudah sibuk setengah panik mengurusi persiapan pernikahan, kami tidak sempat latihan dan gagallah rencana menyanyikan lagu-lagu yang romantis itu. Saat ditodong oleh MC untuk menyanyi, kami akhirnya menyanyikan lagu Kemesraan. Mestinya lagu ini enak tapi gara-gara iklan vitamin C, jadinya yang terngiang-ngiang justru versi jingle-nya. “Kemesraan ini …. Vitacimin ……”
Baru sekitar sebulan setengah di komplek kami dipasang Speedy. Kemarin iseng-iseng kami membuka situs YouTube.com dan pria terkasih menunjukkan klip salah salah penyanyi favoritnya: Shakila. Meski beberapa kali mendengar potongan lagunya - Takkan Hilang, baru kali itu aku melihat sosok Shakila. Wow, wonderful voice! Setelah sekian tahun berlalu, iramanya tidak ketinggalan zaman. Aku suka, pria terkasih apalagi.
So finally, we got our song. On our 5th anniversary. Better late than never.

Happy Anniversary, Sayang ..

Paiton, 5 Juli 2008

=================

Shakila - Takkan Hilang

Masih kurasa sentuhanmu
Rasaku terbuai rindu
Engkau dimana jauh sudah
Kau rasakan semua ini

Begitu cepat semua berlalu
Saat diri hanyut

[Reff:]

Tak kan hilang…
Tak kan hilang rasa
Yang kau berikan oh cinta…
Tak kan hilang…
Tak kan hilang rasa
Yang kau berikan
Termanis untukku

Bulan terbelah jatuh sudah…
Kau menghilang tinggalkan mimpi
Mungkin bagimu tak berarti
Hanya satu gejolak hati

Begitu indah semua bagiku
Walaupun sesaat..

Ingin semua terulang lagi
Saat kau dekap aku…

Selamat Berbahagia ~ 14 Juni 2008

June 19th, 2008

Untuk adik-adikku tersayang Rido & Kiki,

Proficiat atas rumah tangga yang baru dibentuk. Doa kami semoga kalian berdua selalu mengingat dan menjalankan janji pernikahan yang sudah kalian ucapkan di hadapan Tuhan dan di hadapan kaum kerabatmu. Apa yang telah disatukan oleh Allah, tidak dapat diceraikan oleh manusia.

Gunawan & Shirley

Ditulis di Paiton 19 Juni 2008

Untuk mengenang pesta di Semarang yang mengesankan
=====================================================

Pak Max memasang bleketepe

Pak Max memasang bleketepe

Siraman mempelai wanita oleh wakil orangtua

Siraman mempelai wanita oleh wakil orangtua

Siraman mempelai pria oleh orangtua

Siraman mempelai pria oleh orangtua

Malam midodareni, Kiki tampak berseri-seri

Malam midodareni, Kiki tampak berseri-seri

Berpose di depan Gereja Teresia Bongsari Semarang

Berpose di depan Gereja Teresia Bongsari Semarang

Sungkeman kepada orangtua

Sungkeman kepada orangtua

Mencuci kaki suami setelah injak telor sebagai simbol bakti

Mencuci kaki setelah injak telor sebagai simbol bakti

Dipangku, ditimbang siapa yang lebih berat. Jawabnya: sama beratnya

Dipangku, ditimbang siapa yang lebih berat. Jawabnya: sama beratnya

Kacar kucur, semoga rezeki selalu mengucur

Kacar kucur, semoga rezeki selalu mengucur

Saling menyuapi

Saling menyuapi

Tentang PARNA

June 17th, 2008

PARNA adalah singkatan dari Parsadaan Nai Ambaton (lazim juga disebut sebagai Pomparan ni si Raja Naiambaton) yaitu kumpulan marga yang merupakan keturunan dari Nai Ambaton.

Siapakah Nai Ambaton ini?  Untuk mengetahuinya mari kita melihat ke sejarah mula-mula Si Raja Batak.Si Raja Batak memiliki 3 orang anak laki-laki yaitu Guru Tateabulan, Raja Isumbaon dan Toga Laut. Guru Tateabulan memiliki 5 anak laki-laki dan juga 3 anak perempuan, yaitu Siboru Pareme, Siboru Anting Sabungan, Siboru Biding Laut. Raja Isumbaon memiliki 3 orang anak laki-laki yaitu Tuan Sorimangaraja, Raja Asi-asi dan Sangkar Somalidang.

Sirajabatak

Tuan Sorimangaraja kemudian memperistri 3 orang, yaitu:

1) Siboru Anting Sabungan (disebut juga Siboru Paromas)
2) Siboru Biding Laut, adik Siboru Anting Sabungan
3) Siboru Sanggul Haomasan

Anak pertama Tuan Sorimangaraja dari Siboru Anting Sabungan dinamai Si Ambaton atau Tuan Sorbadijulu. Dari sinilah nama Nai Ambaton berasal (nai = ibu, Ambaton = nama anaknya, Nai Ambaton = ibunya si Ambaton). Konon Nai Ambaton ini berpesan kepada anaknya Si Ambaton untuk menjaga persatuan keturunannya.
"Pomparan ni si Raja Naiambaton sisada anak sisada boru”. Kalimat ini sulit diterjemahkan secara tepat dalam bahasa Indonesia tetapi kira-kira maksudnya adalah bahwa semua keturunan Raja Naiambaton adalah satu putra-satu putri (dianggap sebagai satu saudara). Begitu eratnya persaudaraan itu seolah-olah antar kakak dan adik kandung, meskipun hubungan darahnya sudah jauh.

Karena dianggap sebagai satu saudara, putra-putri keturunan Nai Ambaton tidak boleh menikah satu dengan yang lain. Hingga hari ini, terasa canggung bahkan tabu untuk saling mengawini di dalam marga-marga Parna. Jika sampai ada yang menikah, bisa dipastikan pasangan ini akan menjadi bahan gunjingan dan cercaan. Kerap kali mereka dikucilkan –atau mengucilkan diri– dari acara-acara adat.

Untuk mencegah perasaan senang telanjur timbul di antara dua muda-mudi yang pantang saling menikahi, disarankan untuk menanyakan marga segera setelah berkenalan. Menanyakan marga dan kampung asal ini merupakan satu topik "ice breaking" yang baku dalam percakapan dua orang Batak, baik sesama maupun lawan jenis. Semacam ritual untuk "positioning" atau "alignment."

Terkadang salah satu pihak menggunakan sub marga yang tidak umum dikenal sehingga tidak diketahui bahwa mereka memiliki hubungan kekerabatan. Teman, orang tua atau kerabat yang mengetahui hal ini berkewajiban untuk segera memberitahukan. Karena sudah menjadi norma yang dipahami bersama, orang yang ditegur pun tidak boleh marah kepada yang menegur.

Dari situs www.parna.org, marga-marga Parna dibagi menjadi 4 kelompok besar:
A. Dari Simbolon Tua:
1. Simbolon
2. Tinambunan
3. Tumanggor
4. Maharaja
5. Turutan
6. PinayunganSilsilahbatak

7. Nahampun

B. Dari Tamba Tua
8. Tamba
9. Siallagan
10. Sidabutar
11. Sijabat
12. Siadari
13. Sidabalok
(no 10 s.d. no 13 disebut Si Opat Ama)
14. Rumahorbo
15. Rea
16. Napitu
17. Siambaton

C. Dari Saragi Tua
18. Saragi
19. Saragih
20. Simalango
21. Saing
22. Simarmata
23. Nadeak
24. Basirun
25. Bolahan
26. Akarbejadi
27. Kaban
28. Garingging
29. Jurung
30. Telun

D. Dari Munte Tua
31. Munte
32. Sitanggang
33. Sigalingging
34. Siallagan
35. Manihuruk
36. Sidauruk
37. Turnip
38. Sitio
39. Tendang
40. Banuarea
41. Gaja
42. Berasa
43. Beringin
44. Boangmanalu
45. Bancin

Catatan: aku tidak sepakat kalau Sitio diletakkan di rumpun Munte Tua karena Rumahorbo-Napitu-Sitio adalah satu saudara sehingga semestinya Sitio berada di kelompok yang sama dengan Rumahorbo dan Napitu, yaitu sebagai bagian dari Tamba Tua.

Di situs yang lain, disebutkan bahwa marga-marga Parna berjumlah 70 marga. Berikut adalah daftarnya (sebanyak 68 marga saja, yang lainnya belum diketahui) yang disusun secara alfabetikal, bukan berdasarkan urut-urutan kesenioran.

1. Bancin (Sigalingging)
2. Banurea (Sigalingging)
3. Boangmenalu (Sigalingging)
4. Brampu (Sigalingging)
5. Brasa (Sigalingging)
6. Bringin (Sigalingging)
7. Gaja (Sigalingging)
8. Dalimunthe
9. Garingging (Sigalingging)
10. Ginting Baho
11. Ginting Capa
12. Ginting Beras
13. Ginting Guruputih
14. Ginting Jadibata
15. Ginting Jawak
16. Ginting Manik
17. Ginting Munthe
18. Ginting Pase
19. Ginting Sinisuka
20. Ginting Sugihen
21. Ginting Tumangger
22. Haro
23. Kaban
24. Kombih (Sigalingging)
25. Maharaja
26. Manik Kecupak (Sigalingging)
27. Munte
28. Nadeak (di pa lao)
29. Nahampun
30. Napitu
31. Pasi
32. Pinayungan (Sigalingging)
33. Rumahorbo
34. Saing
35. Saraan (Sigalingging)
36. Saragih Dajawak
37. Saragih Damunte
38. Saragih Dasalak
39. Saragih Sumbayak
40. Saragih Siadari
41.  Siallagan
42. Siambaton
43. Sidabalok
44.  Sidabungke
45.  Sidabutar
46. Saragih Sidauruk
47. Saragih Garingging
48. Saragih Sijabat
49. Simalango
50. Simanihuruk
51. Simarmata
52. Simbolon Altong
53. Simbolon Hapotan
54. Simbolon Pande
55. Simbolon Panihai
56. Simbolon Suhut Nihuta
57. Simbolon Tuan
58. Sitanggang Bau
59. Sitanggang Gusar
60. Sitanggang Lipan
61. Sitanggang Silo
62. Sitanggang Upar Par Rangin Na 8 (Sigalingging)
63. Sitio
64. Tamba
65. Tinambunan
66. Tumanggor
67. Turnip
68. Turuten

Note: subject to correction & further editing. Untuk komunikasi lebih lanjut, silakan kontak ke gnapitu@gmail.com  atau shirley.theresia@gmail.com

Paiton, 19 Juni 2008
========================
Sumber:
1) Situs http://www.parna.org/
2) Situs http://id.wikipedia.org/wiki/PomparAn_ni_Raja_Nai_Ambaton
3) 1) "Silsilah Marga-Marga Batak" karangan Drs. Richard Sinaga, terbitan Dian Utama, Jakarta (2000)

Berkunjung ke Panti Langen Werdhasih

June 17th, 2008

Dulu pernah kuangan-angankan untuk mengunjungi NH Dini pada hari ultahnya yang ke-72. Hari itu kuanggap istimewa karena pengarang favoritku itu lahir tanggal 29 Februari sehingga ultahnya hanya bisa dirayakan 4 tahun sekali. Namun apa hendak dikata, cuaca buruk dan kondisi kesehatan keluarga tidak memungkinkanku untuk bepergian pada saat itu. Padahal sudah sempat kupegang hadiah ulang tahun berupa sandang warna hitam dan titipan kartu ucapan dari Elga, penggemar juga asal Tuban.

Bulan ini kesempatan lain datang. Adik iparku menikah dengan pujaan hatinya di kota Semarang. Sehari sesudah acara selesai, kami berziarah ke Taman Doa Gua Maria Kerep Ambawara. Panti tempat NH Dini berdiam, Panti Langen Wredhasih, terletak di Desa Lerep Ungaran yang hanya berjarak 30 menit perjalanan dari Semarang Atas. Setelah menelepon 108, bertanya ke Gramedia Pandanaran dan panti jompo lain di Ungaran, akhirnya aku mendapatkan ancar-ancar lokasi panti tersebut.

Perjalanan ke Desa Lerep sebetulnya mudah. Dari alun-alun Ungaran berbelok ke barat memasuki Jalan Kaligarang lalu berbelok lagi ke kanan memasuki jalan sempit. Saat itu matahari masih cukup terang sehingga kami bisa dengan jelas membaca petunjuk-petunjuk jalan menuju panti ini.

Jalan-jalan yang curam sempat membuatku pesimis, jangan-jangan lokasinya mengenaskan dan kotor. Apalagi aku teringat ada pemberitaan di internet beberapa waktu yang lalu bahwa NH Dini menderita gangguan kesehatan dan membutuhkan uluran bantuan untuk pembiayaannya. Apakah beliau saat ini dalam kondisi kesulitan finansial sehingga harus pindah ke lokasi yang terpencil seperti ini, yang alamat dan nomornya tidak tercatat di buku telepon?

Nhd_13Ketika akhirnya kami tiba di panti, ada terselip perasaan lega. Bangunan panti terlihat baru dan terawat. Pemandangannya indah, hawanya sejuk. Belakangan baru aku tahu bahwa Panti Langen Werdhasih ini adalah panti lanjut usia eksklusif yang diresmikan tahun 2005. NH Dini sendiri masuk ke tempat tersebut atas sponsor dari Bu Mardiyanto, istri H. Mardiyanto (mantan gubernur Jawa Tengah yang sekarang menjabat sebagai Mendagri dalam kabinet SBY). Panti ini memiliki 5 paviliun dan 13 kamar seharga masing-masing Rp 1.25 juta dan Rp 1juta per bulan (termasuk makan dan cuci pakaian).

NH Dini memperoleh tempat yang istimewa berupa sebuah rumah kecil yang terpisah dari bangunan utama dengan taman dan lahan kosong yang cukup lebar yang menjanjikan sirkulasi udara yang baik.

Dari Pak Mariono, si penjaga rumah yang kutitipi kartu dan kado ultah itu, ketahuan ternyata Bu Dini sedang bepergian ke Perancis selama 1 bulan. Ini menjawab tanda tanya mengapa Bu Dini tidak membalas 3 sms yang kukirim padahal biasanya beliau rajin menanggapi sms dan surat dari para fansnya.

Meski kecewa, aku cukup gembira bisa melihat-lihat situasi tempat tinggal Bu Dini dengan agak leluasa. Ada gapura di depan rumah yang ditanami sejenis melati yang beraroma kuat sekali. Di teras ada satu set kursi terbuat dari bambu –yang ditumpuk-tumpuk, menandakan penghuni sedang tidak berada di rumah. Untuk bel rumah ada kentongan berbentuk bebek kayu yang unik. Beberapa pot berbentuk bulat dengan mulut lebar diisi air dan diletakkan di halaman. Nh_dini_2

Aku memperoleh kesan pengarang favoritku ini sangat menghargai privasi. Setiap jendela diberi teralis warna besi tempa dengan motif bunga sebagai pusat  perhatiannya. Halaman rumah kecil ini tidak berpagar tetapi rumah tanaman dan pagar hidup yang ditata di sekelilingnya jelas-jelas menunjukkan jarak antara bangunan kediaman dengan alam sekitarnya. Banyak jenis bunga yang tidak kuketahui namanya tumbuh di sini. Sungguh asri, sejuk dan nyaman.

Entah kapan aku akan bisa bertemu dengan NH Dini. Namun semoga suatu hari jalan hidup kami bertemu, sebelum Yang Punya Hidup menyatakan akhir usia kami.

Paiton, 17 Juni 2008

Tour of Duty - Jogjakarta

June 3rd, 2008

Sabtu & Minggu kemarin aku dan pria terkasih melakukan tour of duty ke Jogjakarta. Misinya satu: mewakili orang tua menerima pinangan untuk adik kami. Menjadi saksi dari sebuah peristiwa penting, awal bersatunya cinta sepasang anak manusia.

Meski bapak mertua sudah meninggal 1½ tahun yang lalu, sistem adat Uda_2memungkinkan kami memiliki figur orang tua di mana pun kami berada. Definisi orang tua di sini adalah orang yang semarga dan usianya / generasinya lebih tua. Begitu pun dengan acara di Jogja ini. Absennya orang tua bisa
teratasi dengan kehadiran seorang bapa uda yang bernama Binsar Saragi Napitu. Terus terang itulah kali pertama aku bertemu dengan beliau tapi itu tidak penting. Kenyataan bahwa beliau bermarga sama dan bersedia meluangkan waktu untuk kami saja sudah cukup. Obrolan mengalir seolah-olah beliau adalah bapak kami sendiri.Paranaksmrg

Catatan: dalam budaya Batak, pihak pengantin laki-laki disebut "paranak" sedangkan pihak pengantin perempuan disebut "parboru" (dari kata anak & boru). Untuk mudahnya dalam tulisan ini aku terus menggunakan kedua istilah tersebut.

Acara berlangsung di rumah pasangan abang sulung kami dan istrinya
(semestinya aku memanggil mereka "akkang doli" dan "akkang boru" tetapi
untuk lebih akrabnya aku membahasakan mereka abang & kakak saja).

HantaranHari Minggu pukul 12 siang keluarga pihak laki-laki tiba. Seluruhnya berjumlah 7 orang. Calon mempelai sendiri, baik si laki-laki maupun si perempuan, tidak ikut menghadiri acara. Ada berbagai-bagai buah tangan yang dibawa paranak, menunjukkan niat baik dan penghargaan yang diberikan paranak kepada parboru. Kedatangan paranak disambut dengan senang hati dan terbuka oleh parboru. Lagipula, ini bukan pertama kalinya kedua pihak bertemu.

Masing-masing keluarga memiliki juru bicara. Dari pihak parboru, juruWillyou bicaranya adalah bapa uda. Dari pihak paranak, juru bicaranya adalah salah seorang kerabat. Detil percakapan antara kedua keluarga terlalu intim untuk dibagikan kepada umum. Yang jelas ketika pihak perempuan dihubungi via telepon genggam dan ditanyakan kesediaannya, dengan tegas yang bersangkutan mengatakan: ya.

RombonganSatu hal yang aku amati, ketika dua kultur yang berbeda dibenturkan, akan terjadi asimilasi dan lahirlah sub kultur baru. Adat perkawinan Batak yang tradisional cukup ribet (baca tulisan berikut). Adat perkawinan Jawa pun tidak kurang rumitnya. Ketika keduanya dipertemukan, yang muncul adalah tata cara yang tiada duanya, unik hanya untuk mereka yang menjalaninya. Sungguh aku menikmatinya.

Adik-adikku, semoga acara kalian berjalan dengan lancar, ya.

Paiton, 3 Juni 2008

Panggilan Keluarga dalam Adat Batak

June 3rd, 2008

Berikut adalah ringkasan panggilan antar anggota keluarga dalam budaya Batak, mudah-mudahan dapat memberikan gambaran ringkas mengenai hubungan kekerabatan dalam budaya ini.

Perlu diperhatikan bahwa panggilan-panggilan ini juga dipakai secara luas di luar lingkup keluarga inti / keluarga yang masih berhubungan darah langsung. Sebagai contoh, panggilan "Tulang" tidak hanya dialamatkan kepada saudara laki-laki kandung ibu tetapi juga semua laki-laki yang satu marga dengan ibu, bahkan yang satu "dongan tubu" (kelompok masyarakat yang satu rumpun marga). 

Marga Sihotang misalnya , adalah bagian dari rumpun marga Raja Oloan. Kepada setiap laki-laki yang menyandang nama Raja Oloan (termasuk di dalamnya adalah Naibaho, Sihotang, Bakkara, Sinambela, Sihite, Manullang), pria terkasih wajib memanggil Tulang, tidak peduli apakah yang bersangkutan adalah pria usia 60 tahun atau anak-anak usia 7 tahun.

Jika ada kesalahan, mohon koreksinya. Mauliate, terima kasih.

Paiton, 3 Juni 2008

====================

anak = keturunan laki-laki
boru = keturunan perempuan
abang = panggilan kepada saudara laki-laki yang lebih tua

kakak = panggilan kepada saudara perempuan yang lebih tua
adik = panggilan kepada saudara yang lebih muda, baik laki-laki maupun perempuan
anggi = adik
ito = panggilan antar dua saudara yang berbeda jenis kelamin (bedakan dengan abang atau kakak)
appara = panggilan antara dua laki-laki bukan kandung yang semarga

oppung doli = kakek, Jawa = eyang kakung
oppung boru = nenek, Jawa = eyang putri
pahopu = cucu

simatua doli = mertua laki-laki
simatua boru = mertua perempuan
hela = menantu laki-laki
parumaen = menantu perempuan
hula-hula = orang tua dan saudara laki-laki dari istri (marga yang ‘memberi’ istri)
catatan: dalam upacara adat, hula-hula menempati kedudukan yang tinggi dan selalu didahulukan. Dipercaya jika seseorang tidak menghormati hula-hulanya maka rezekinya akan seret dan kesulitan mencari nafkah. Hal ini sejalan dengan filosofi Dalihan Natolu yang dijalankan oleh masyarakat Batak).

                                                                                        note: photo credit by gobatak.com

Batak1

akkang doli = saudara ipar laki-laki dari pihak suami akkang boru = istri akkang doli
eda = saudara ipar perempuan dari pihak suami amang bao = suami eda
catatan: umumnya antara menantu perempuan & menantu laki-laki tidak banyak terjalin komunikasi. Bahkan pada zaman dahulu, jika terpaksa sekali harus ada, komunikasi dilakukan dengan media "dinding rumah". Amang bao berbicara kepada dinding seolah-olah dinding tersebut dapat menjawab, dan istri akan menyahuti seolah-olah dinding tersebutlah yang bertanya. Konon hal ini dilakukan untuk mengurangi peluang perselingkuhan di dalam keluarga.

Kekerabatan dari jalur bapak:
bapa tua = bapak yang tua, Jawa = pakde, abangnya bapak
bapa uda = bapak yang muda, Jawa = paklik, adiknya bapak
inang tua = istri bapa tua
inang uda = istri bapa uda
namboru = tante, bude/ bulik, khusus di pihak ayah
amang boru = suami namboru

Kekerabatan dari jalur ibu:
tulang = oom, pakde/ paklik, khusus di pihak ibu
nantulang = istri tulang
inang tua = ibu yang tua, Jawa = bude, kakaknya ibu
inang uda = ibu yang muda, Jawa = bulik, adiknya ibu
bapa tua = suami inang tua
bapa uda = suami inang uda

Fashion Lesson

June 3rd, 2008

Terus terang aku "gemes" jika melihat anak kecil yang manis dan lucu didandani tidak dengan semestinya. Bisa karena warnanya tidak padu, misalnya kaos ungu dipasangkan dengan celana hijau. Bisa karena saltum (salah kostum): keluyuran di luar rumah hanya dengan singlet plus celana dalam, atau rok yang super pendek yang menampilkan pantat. Yang paling parah adalah melihat anak-anak didandani dengan pulas mata merah-kuning-hijau, pensil alis hitam tebal dan lipstik yang menor. Rasa gemes ini muncul bukan karena aku sadar mode, tetapi karena menurutku anak-anak itu sudah indah dari sononya. Bahkan ketika mereka baru bangun tidur, dengan mata penuh belek dan nafas masih bau naga, mereka tidak pernah gagal menimbulkan rasa sayang di hati kita. Alangkah sayangnya jika keindahan itu tertutup oleh fesyen yang tidak pas.

Ketika Naomi masih kecil, aku berkali-kali mengatakan ke pengasuh anakku untuk mengenakan pada anakku busana bepergian yang bersesuaian. Tidak mudah mengajari seseorang yang memiliki pendapat yang berbeda dengan kita untuk berubah, terlebih karena si mbak tidak melihat apa pentingnya padu padan tersebut. So what kalau si kecil mengenakan kaus pink, rok jins biru, celana dalam oranye, kaos kaki hitam dan sepatu putih? Untuk mempermudah ‘tugas’ si mbak, akhirnya instruksinya aku sederhanakan: pakaikan baju yang sewarna dari atas ke bawah. Kalau tidak yakin, pakaikan jins atau celana puth. Atau tanya. Meski dengan susah payah dan berkali-kali koreksi, akhirnya si mbak sedikit demi sedikit mulai bisa menerapkan padu padan ini.

Ketika Naomi berusia 3 tahun dan sudah mulai belajar mengenakan baju sendiri, bapaknya mengajarkan kata baru: matching. Matching artinya warnanya serasi, cocok dan enak dilihat. Di luar dugaan Naomi menyerap pelajaran ini dengan sangat cepat. Sore ini buktinya.

Aku: Naomi, ayo ganti baju. Ikut Mamak* pergi ke Kraksaan ya. Ke tukang jahit.
Naomi: Aku pilih baju sendiri.
Aku: OK. Mau yang mana, Dik?
Naomi: Yang itu ya, Mak (menunjuk kaos Scooby Doo). Ngeceng
Aku: Celananya yang coklat aja.
Naomi: Nggak mau!
Aku: Kenapa, Mi?
Naomi: Nggak matching ….
Aku: Lho? Kan Scooby Doo-nya warna coklat. Sama dengan warna celanamu.
Naomi: Nggak matching, Mak. Naomi milih sendiri!
(akhirnya dia memilih rok jins)

Kali lain ….
Pengasuh: Mi, ayo sini ganti baju.
Naomi: Tanya Mamak dulu (sambil menghampiriku). Mak, ini matching nggak?

Bah, tarotak** aku! Baru 3 tahun sudah milih-milih baju. Gimana kalau nanti dia puber.

Meski begitu aku bangga. Ini salah satu bukti bahwa usia balita adalah masa emas, periode seorang anak menyerap / meniru segala sesuatu di sekelilingnya, baik maupun buruk, dengan kecepatan yang luar biasa. Mulai dari hal-hal yang paling sederhana seperti makan dan berpakaian sendiri, maupun konsep yang kompleks seperti spektrum warna dan arti kematian. Kadang aku sampai takut sendiri, jika perkataan dan tingkah lakuku tidak patut dan ditiru oleh si kecil. Anak-anak memang diciptakan untuk menguji kita dan dalam proses itu kita diubah menjadi manusia yang lebih baik.

Don’t waste your parenting time. It will be gone before you know it.

Paiton, 3 Juni 2008

* mamak = panggilan untuk orang tua perempuan
** tarotak = stres