Pengharapan
Tanggal 1 Desember 2008. Hari AIDS sedunia. HBO menayangkan film “Life Support.” Queen Latifah memerankan Ana Wallace, tokoh sentralnya. Ana menjadi junkie saat ia berusia 25 tahun, tertular virus AIDS dari suaminya, harus menyerahkan hak pengasuhan anak kepada ibunya, mengandung anak lagi yang syukurnya terhindar dari virus mengerikan itu berkat AZT. Ia bekerja sebagai relawan di LSM penyadaran bahaya AIDS, berjalan kaki terpincang-pincang ke mana-mana dengan menyeret sebuah koper kecil penuh berisi brosur dan kondom (yang dibagikannya kepada setiap orang termasuk pacar anaknya yang baru sekali bertemu). Setiap hari ia menjalani konsekuensi pilihan hidupnya: konflik dengan pasangan, anak, orang tua dan lingkungan sekitar. I don’t know how many people out there have watched this film. Certainly not too entertaining as it talks about AIDS, the most feared disease of the century. But it makes me think. When a film can do that, giving you impression and makes you think, it’s the sign of good story. Bless you, Latifah.
Film ini diambil dengan latar belakang zamanku. Zaman kita yang lahir di tahun 60 & 70-an. Generasi yang mulai berpikiran terbuka terhadap banyak hal. Lebih permisif terhadap penggunaan narkotik dan seks bebas. Tidak terlalu shock lagi mengetahui orang-orang di dalam inner circle kita “married by accident”, aborsi, atau mati karena overdosis. Generasi yang sekarang sudah menjadi orang tua bagi generasi berikutnya. Kita mulai menuai buah dari keputusan-keputusan kita di masa lalu berkenaan dengan pasangan hidup, pekerjaan, gaya hidup, cara mendidik anak dan seterusnya.
Dengan jujur aku mengatakan: aku bukan orang beragama yang baik. Dalam benakku, Yesus mengajar selama 3 tahun. Dalam 2000 tahun perjalanan, ada improvisasi-improvisasi yang dilakukan otoritas gereja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul kemudian. Tidak semua improvisasi (baca: dogma) itu kusetujui, namun aku memilih pasif dan berlagak dogma itu tidak ada. Bersama dengan waktu, orang-orang suci makin suci, ajaran-ajaran makin terlegitimasi dan tidak terbantahkan. Siapa yang tahu sebetulnya apa yang benar dan apa yang salah?
Makin banyak kubaca karya sastra yang mengemukakan realisme. Kesadaran diri. Penerimaan terhadap sekeliling. Penyakit AIDS, ebola dan kanker ada karena memang waktunya ada. Perceraian terjadi karena sudah waktunya. Kukagumi kepandaian mereka-mereka yang jelas jauh di atasku dan berani mengemukakan pendapat dengan cara yang berbeda. Namun sisi diriku yang satu itu tidak bisa menerima. Haruskah kita begitu pasrah? Haruskah kita menundukkan kepala kepada hukum alam. Bagian diri kita yang religiuslah yang memungkinkan kita untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Memberikan pipi kanan saat pipi kiri kita ditampar. Memaafkan musuh. Tidak membunuh seseorang yang menghabisi keluarga kita.
Meski tidak disiplin, aku memutuskan untuk bertahan dalam keyakinanku. Seorang penulis muda mengatakan agama itu baginya hanyalah cangkang, rumah sementara bagi spiritualitas yang menuju Tuhan yang satu. Aku belum sampai ke tahap itu. Masih kurasakan keintiman dengan Dia yang menjagai aku. Ilah lain begitu asing dan jauh. Lebih dari itu, dalam keyakinanku kutemukan harapan. There’s something out there that is greater than all these lethal diseases combined together.
Banyak kebahagiaan di luar sana yang bisa kita kejar. Aktualisasi diri. Kebahagiaan individu. Kenikmatan berada dalam lingkup kenyamanan kita sendiri. Kejauhan fisik dengan tetangga, kedekatan emosi dan ego pada seseorang di dunia maya. Banyak. Pertanyaannya: akankah kau menemukan kebahagiaan sejati di sana.
Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (Matius 7: 8-12)
Paiton, 3 Desember 2008
December 7th, 2008 at 5:42 am
aku setuju pada bagian aku merasakan keintiman dengan penciptaku.. tapi keknya ku belum sampai pada tahap yang lainnya.. loh?