Ces’t La Vie

Seorang gadis kenalanku bercerita bahwa ia tidak ingin mendapatkan suami dari lingkungan rumah tinggalnya. Alasannya ia tidak ingin dinikahi oleh pria lokal karena adat di situ mengharuskan seorang laki-laki membawa perabot lengkap saat memasuki rumah si perempuan (lemari, meja rias, dipan, kursi tamu dan lain-lain), sehingga menjadi beban bagi si lelaki.

Adat yang sama juga mengizinkan si suami mengangkuti perabotan tersebut jika suatu hari mereka bercerai. Gadis ini berkata bahwa ia ingin menikah dengan salah satu dari pria pendatang yang banyak bekerja di kecamatan kami. Hidup tenang berkecukupan tanpa banyak aturan adat.

Sebagian dari kita merasa tidak beruntung karena tidak memiliki banyak pilihan di dalam hidup. Dijodohkan atau menikah

muda pada saat kita masih ingin menjalani cinta monyet. Memiliki anak di usia kencur padahal diri masih menginginkan kesenangan remaja. Saat memiliki anak satu, datang lagi pertanyaan ‘kapan nambah adiknya’. Hidup dalam belitan utang dan kepedihan hidup. Mengayuh sepeda saat orang-orang di sekeliling menaiki sepeda motor, bahkan mobil. Berkhayal setiap hari, kapankah kesusahan ini akan berakhir. Merasa bagaikan ternak yang digiring memasuki keadaan yang tidak dipahami apalagi diinginkan.

Pernahkah kita berpikir apa yang akan kita lakukan jika kesusahan-kesusahan itu tidak menghampiri hidup kita. Hidup berkecukupan bahkan berlimpah. Tidak ada utang di toko karena setiap saat kita sanggup membayar tunai. Tinggal di rumah yang luas dengan lingkungan yang menyenangkan: tidak berpagar tetapi aman dan jauh dari telinga tetangga, rumputnya hijau dan anak-anak kecil bisa bersepedaan dengan leluasa. Memiliki kekasih dan teman-teman yang pengertian, yang mau menjadi pendengar kita yang baik, tidak pernah menyanggah apa pun yang kita katakan. Kapan pun kita mau, kita bisa berhenti bekerja dan tidur dengan nyaman di rumah atau di tempat wisata. Makan di luar atau pun berbelanja bisa menjadi acara sehari-hari.

Ketika kita memiliki segalanya, akankah kita membuat keputusan-keputusan yang bijak. Jika kita melihat ke sekeliling, banyak kerusakan ditimbulkan oleh orang yang terlalu banyak waktu luang, terlalu sedikit olah fisik dan terlalu banyak kesempatan.

Every person must live his/ her whole life. Hidup yang penuh.
Berbahagia di dalam jiwa dan pikiran. Jika kita tidak kaya, marilah berbahagia saat kita berusaha menjadi kaya. Bersyukurlah jika masih ada yang lebih hebat dari kita, karena itu memberikan arah bagi kita untuk menjadi lebih baik. Percayalah, membosankan berada di atas sana jika kita tidak bersusah payah untuk mencapainya. Jika ada lift menuju puncak Mount Everest, akan hilanglah kenikmatan berada di puncak, tak peduli bagaimana spektakulernya hamparan pemandangan.

Seorang wanita muda di desa kecil di Indonesia mungkin tidak akan pernah berpikir untuk tidak menikah dan mempunyai anak karena itulah dunia yang diketahuinya. Seorang wanita lajang yang berpenghasilan Rp 50 juta sebulan mungkin bertanya-tanya apa perlunya mencari pendamping hidup jika ia sudah tidak membutuhkan pencari nafkah. Siapa yang lebih bahagia dari keduanya? Jangan-jangan bukan keduanya. Yang miskin ingin kebebasan finansial, yang kaya ingin cinta tak bersyarat.

Tak usah menghujat jika Nasib membawa kesakitan bagi jiwamu, memang sudah tugasnya begitu. Mari rayakan perjuangan hidup kita, setiap harinya. Tertawa ketika bisa, menangis ketika ingin. Berbahagia setiap saat.

Paiton, 5 Agustus 2008

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.