Perceraian
Hal perceraian tidak akan terbayang oleh dua sejoli yang sedang dimabuk asmara. Bagi mereka, dunia adalah milik berdua dan segala konflik pasti bisa terselesaikan dengan cinta yang mereka miliki. Mungkin bila mereka memandang orang lain yang sedang bertengkar, dalam hati kecilnya mereka berkata, kami beda, kami tidak akan seperti itu, kami akan lebih baik dari orang-orang sebelum kami.
Dalam rumah tangga, adalah mustahil untuk 100% bebas konflik. Konflik bisa frontal, bertengkar mulut, melontarkan kata-kata pedas untuk menyakiti pasangan. Ada yang keterlaluan hingga baku fisik. Ada yang melakukan emotional blackmail, merajuk dan tidak mengacuhkan pasangan, memasang wajah beku ketika diajak bicara. Ada yang kelihatannya diam dan menurut, tetapi dalam hatinya menabung rasa pedih sampai akhirnya hati menjadi tawar. Ada sedikit yang mampu bijak, memasang telinga dan berbicara hanya saat perlu.
Pernah aku mendengar berita pernikahan artis dan aku berpikir: alangkah idealnya. Sama-sama berpendidikan, dari latar belakang suku & agama sama. Yang wanita cantik, anggun, penulis yang ternama, sementara yang pria bersuara indah dan berpenampilan menawan. Ketika dulu mereka memutuskan untuk beralih keyakinan, sempat kupikir: mereka tentu tahu apa yang mereka lakukan. Mungkin pemahaman mereka terhadap yang ilahi sudah melampaui tatanan yang mampu dijelaskan oleh agama-agama yang sudah mapan sehingga mereka mengambil keputusan demikian drastis. Cinta mereka telah begitu dewasa sehingga mereka berani mengambil keputusan yang pastinya mengecewakan keluarga dan orang-orang terdekat. Ketika akhirnya meruak berita mereka akan bercerai, rasanya ada tendangan balik. Ah, rupanya hanya sebegini.
Aku pernah berada dalam sebuah hubungan yang buruk dan tidak dewasa. Oksigen seakan menghilang dari udara saat bersama. Hati seakan tertekan seperti bekerja dan dikejar tenggat waktu, hanya saja ini jenis tekanan yang tak kundung pergi meski malam telah berganti. Berpisah adalah jalan yang terbaik bagi dua remaja yang baru saling menjajaki dan tidak menemukan kecocokan. Tidak ada keraguan mengenai hal ini karena tidak ada hal-hal penting yang dipertaruhkan. Bahkan jika keperawanan/ keperjakaan telah dilalukan dan nama baik keluarga dipertaruhkan, aku berani mengatakan jangan memasuki jenjang pernikahan yang tidak kau kehendaki dan yang tidak kau yakini akan mampu kau pertahankan hingga ajalmu. Prek dengan pandangan orang!
Bagaimana jika kita telah menikah. Tiap religi punya pandangannya sendiri. Setiap pasangan yang menerima mutlak keyakinannya niscaya tidak akan terombang-ambing ketika harus mengambil keputusan lanjut atau pisah. Hanya saja kebanyakan dari kita adalah makhluk pembimbang, yang mengkritisi segala sesuatu termasuk urusan jodoh. Jika hasrat hati tidak sejalan dengan norma, gejolak dan keraguan adalah pasti. Haruskah kita bertahan. Atau mengambil langkah ekstrim: meninggalkan segala sesuatu yang dikenal demi sebuah lembaran baru.
Alangkah mudahnya berkata: aku minta cerai. Alangkah beratnya untuk mengajak berbicara dan meminta maaf. Sungguh cinta kerap kalah dengan harga diri. Saranku: bertahan dan berbuatlah sesuatu. Bukan karena anak. Bukan karena ketergantungan ekonomi. Bukan karena takut kesepian. Melainkan demi pendewasaan diri dan pendewasaan iman. Perjalanan hidup manusia kerap merupakan pengulangan dari langkah masa lalu. Ibarat pecandu narkoba yang jatuh dan jatuh lagi pada lubang yang sama. Bergantunglah pada yang Ilahi untuk kekuatan. Kekuatanmu sendiri hanya seberapa sel tubuhmu mampu menahankannya. Kalau pun harus berpisah, bertahanlah dalam kesendirianmu hingga kau mencapai kematangan yang memampukanmu bercinta tanpa mengungkit masa lalu.
Maka, selamat bertahan, dan selamat bercinta.
Paiton, 12 Juli 2008
* untuk sahabat tersayang yang sedang menjalani pergumulannya