Tour of Duty - Jogjakarta
Sabtu & Minggu kemarin aku dan pria terkasih melakukan tour of duty ke Jogjakarta. Misinya satu: mewakili orang tua menerima pinangan untuk adik kami. Menjadi saksi dari sebuah peristiwa penting, awal bersatunya cinta sepasang anak manusia.
Meski bapak mertua sudah meninggal 1½ tahun yang lalu, sistem adat memungkinkan kami memiliki figur orang tua di mana pun kami berada. Definisi orang tua di sini adalah orang yang semarga dan usianya / generasinya lebih tua. Begitu pun dengan acara di Jogja ini. Absennya orang tua bisa
teratasi dengan kehadiran seorang bapa uda yang bernama Binsar Saragi Napitu. Terus terang itulah kali pertama aku bertemu dengan beliau tapi itu tidak penting. Kenyataan bahwa beliau bermarga sama dan bersedia meluangkan waktu untuk kami saja sudah cukup. Obrolan mengalir seolah-olah beliau adalah bapak kami sendiri.
Catatan: dalam budaya Batak, pihak pengantin laki-laki disebut "paranak" sedangkan pihak pengantin perempuan disebut "parboru" (dari kata anak & boru). Untuk mudahnya dalam tulisan ini aku terus menggunakan kedua istilah tersebut.
Acara berlangsung di rumah pasangan abang sulung kami dan istrinya
(semestinya aku memanggil mereka "akkang doli" dan "akkang boru" tetapi
untuk lebih akrabnya aku membahasakan mereka abang & kakak saja).
Hari Minggu pukul 12 siang keluarga pihak laki-laki tiba. Seluruhnya berjumlah 7 orang. Calon mempelai sendiri, baik si laki-laki maupun si perempuan, tidak ikut menghadiri acara. Ada berbagai-bagai buah tangan yang dibawa paranak, menunjukkan niat baik dan penghargaan yang diberikan paranak kepada parboru. Kedatangan paranak disambut dengan senang hati dan terbuka oleh parboru. Lagipula, ini bukan pertama kalinya kedua pihak bertemu.
Masing-masing keluarga memiliki juru bicara. Dari pihak parboru, juru bicaranya adalah bapa uda. Dari pihak paranak, juru bicaranya adalah salah seorang kerabat. Detil percakapan antara kedua keluarga terlalu intim untuk dibagikan kepada umum. Yang jelas ketika pihak perempuan dihubungi via telepon genggam dan ditanyakan kesediaannya, dengan tegas yang bersangkutan mengatakan: ya.
Satu hal yang aku amati, ketika dua kultur yang berbeda dibenturkan, akan terjadi asimilasi dan lahirlah sub kultur baru. Adat perkawinan Batak yang tradisional cukup ribet (baca tulisan berikut). Adat perkawinan Jawa pun tidak kurang rumitnya. Ketika keduanya dipertemukan, yang muncul adalah tata cara yang tiada duanya, unik hanya untuk mereka yang menjalaninya. Sungguh aku menikmatinya.
Adik-adikku, semoga acara kalian berjalan dengan lancar, ya.
Paiton, 3 Juni 2008