Panggilan Keluarga dalam Adat Batak

Berikut adalah ringkasan panggilan antar anggota keluarga dalam budaya Batak, mudah-mudahan dapat memberikan gambaran ringkas mengenai hubungan kekerabatan dalam budaya ini.

Perlu diperhatikan bahwa panggilan-panggilan ini juga dipakai secara luas di luar lingkup keluarga inti / keluarga yang masih berhubungan darah langsung. Sebagai contoh, panggilan "Tulang" tidak hanya dialamatkan kepada saudara laki-laki kandung ibu tetapi juga semua laki-laki yang satu marga dengan ibu, bahkan yang satu "dongan tubu" (kelompok masyarakat yang satu rumpun marga). 

Marga Sihotang misalnya , adalah bagian dari rumpun marga Raja Oloan. Kepada setiap laki-laki yang menyandang nama Raja Oloan (termasuk di dalamnya adalah Naibaho, Sihotang, Bakkara, Sinambela, Sihite, Manullang), pria terkasih wajib memanggil Tulang, tidak peduli apakah yang bersangkutan adalah pria usia 60 tahun atau anak-anak usia 7 tahun.

Jika ada kesalahan, mohon koreksinya. Mauliate, terima kasih.

Paiton, 3 Juni 2008

====================

anak = keturunan laki-laki
boru = keturunan perempuan
abang = panggilan kepada saudara laki-laki yang lebih tua

kakak = panggilan kepada saudara perempuan yang lebih tua
adik = panggilan kepada saudara yang lebih muda, baik laki-laki maupun perempuan
anggi = adik
ito = panggilan antar dua saudara yang berbeda jenis kelamin (bedakan dengan abang atau kakak)
appara = panggilan antara dua laki-laki bukan kandung yang semarga

oppung doli = kakek, Jawa = eyang kakung
oppung boru = nenek, Jawa = eyang putri
pahopu = cucu

simatua doli = mertua laki-laki
simatua boru = mertua perempuan
hela = menantu laki-laki
parumaen = menantu perempuan
hula-hula = orang tua dan saudara laki-laki dari istri (marga yang ‘memberi’ istri)
catatan: dalam upacara adat, hula-hula menempati kedudukan yang tinggi dan selalu didahulukan. Dipercaya jika seseorang tidak menghormati hula-hulanya maka rezekinya akan seret dan kesulitan mencari nafkah. Hal ini sejalan dengan filosofi Dalihan Natolu yang dijalankan oleh masyarakat Batak).

                                                                                        note: photo credit by gobatak.com

Batak1

akkang doli = saudara ipar laki-laki dari pihak suami akkang boru = istri akkang doli
eda = saudara ipar perempuan dari pihak suami amang bao = suami eda
catatan: umumnya antara menantu perempuan & menantu laki-laki tidak banyak terjalin komunikasi. Bahkan pada zaman dahulu, jika terpaksa sekali harus ada, komunikasi dilakukan dengan media "dinding rumah". Amang bao berbicara kepada dinding seolah-olah dinding tersebut dapat menjawab, dan istri akan menyahuti seolah-olah dinding tersebutlah yang bertanya. Konon hal ini dilakukan untuk mengurangi peluang perselingkuhan di dalam keluarga.

Kekerabatan dari jalur bapak:
bapa tua = bapak yang tua, Jawa = pakde, abangnya bapak
bapa uda = bapak yang muda, Jawa = paklik, adiknya bapak
inang tua = istri bapa tua
inang uda = istri bapa uda
namboru = tante, bude/ bulik, khusus di pihak ayah
amang boru = suami namboru

Kekerabatan dari jalur ibu:
tulang = oom, pakde/ paklik, khusus di pihak ibu
nantulang = istri tulang
inang tua = ibu yang tua, Jawa = bude, kakaknya ibu
inang uda = ibu yang muda, Jawa = bulik, adiknya ibu
bapa tua = suami inang tua
bapa uda = suami inang uda

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.