Fashion Lesson

Terus terang aku "gemes" jika melihat anak kecil yang manis dan lucu didandani tidak dengan semestinya. Bisa karena warnanya tidak padu, misalnya kaos ungu dipasangkan dengan celana hijau. Bisa karena saltum (salah kostum): keluyuran di luar rumah hanya dengan singlet plus celana dalam, atau rok yang super pendek yang menampilkan pantat. Yang paling parah adalah melihat anak-anak didandani dengan pulas mata merah-kuning-hijau, pensil alis hitam tebal dan lipstik yang menor. Rasa gemes ini muncul bukan karena aku sadar mode, tetapi karena menurutku anak-anak itu sudah indah dari sononya. Bahkan ketika mereka baru bangun tidur, dengan mata penuh belek dan nafas masih bau naga, mereka tidak pernah gagal menimbulkan rasa sayang di hati kita. Alangkah sayangnya jika keindahan itu tertutup oleh fesyen yang tidak pas.

Ketika Naomi masih kecil, aku berkali-kali mengatakan ke pengasuh anakku untuk mengenakan pada anakku busana bepergian yang bersesuaian. Tidak mudah mengajari seseorang yang memiliki pendapat yang berbeda dengan kita untuk berubah, terlebih karena si mbak tidak melihat apa pentingnya padu padan tersebut. So what kalau si kecil mengenakan kaus pink, rok jins biru, celana dalam oranye, kaos kaki hitam dan sepatu putih? Untuk mempermudah ‘tugas’ si mbak, akhirnya instruksinya aku sederhanakan: pakaikan baju yang sewarna dari atas ke bawah. Kalau tidak yakin, pakaikan jins atau celana puth. Atau tanya. Meski dengan susah payah dan berkali-kali koreksi, akhirnya si mbak sedikit demi sedikit mulai bisa menerapkan padu padan ini.

Ketika Naomi berusia 3 tahun dan sudah mulai belajar mengenakan baju sendiri, bapaknya mengajarkan kata baru: matching. Matching artinya warnanya serasi, cocok dan enak dilihat. Di luar dugaan Naomi menyerap pelajaran ini dengan sangat cepat. Sore ini buktinya.

Aku: Naomi, ayo ganti baju. Ikut Mamak* pergi ke Kraksaan ya. Ke tukang jahit.
Naomi: Aku pilih baju sendiri.
Aku: OK. Mau yang mana, Dik?
Naomi: Yang itu ya, Mak (menunjuk kaos Scooby Doo). Ngeceng
Aku: Celananya yang coklat aja.
Naomi: Nggak mau!
Aku: Kenapa, Mi?
Naomi: Nggak matching ….
Aku: Lho? Kan Scooby Doo-nya warna coklat. Sama dengan warna celanamu.
Naomi: Nggak matching, Mak. Naomi milih sendiri!
(akhirnya dia memilih rok jins)

Kali lain ….
Pengasuh: Mi, ayo sini ganti baju.
Naomi: Tanya Mamak dulu (sambil menghampiriku). Mak, ini matching nggak?

Bah, tarotak** aku! Baru 3 tahun sudah milih-milih baju. Gimana kalau nanti dia puber.

Meski begitu aku bangga. Ini salah satu bukti bahwa usia balita adalah masa emas, periode seorang anak menyerap / meniru segala sesuatu di sekelilingnya, baik maupun buruk, dengan kecepatan yang luar biasa. Mulai dari hal-hal yang paling sederhana seperti makan dan berpakaian sendiri, maupun konsep yang kompleks seperti spektrum warna dan arti kematian. Kadang aku sampai takut sendiri, jika perkataan dan tingkah lakuku tidak patut dan ditiru oleh si kecil. Anak-anak memang diciptakan untuk menguji kita dan dalam proses itu kita diubah menjadi manusia yang lebih baik.

Don’t waste your parenting time. It will be gone before you know it.

Paiton, 3 Juni 2008

* mamak = panggilan untuk orang tua perempuan
** tarotak = stres

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.