Berkunjung ke Panti Langen Werdhasih
Dulu pernah kuangan-angankan untuk mengunjungi NH Dini pada hari ultahnya yang ke-72. Hari itu kuanggap istimewa karena pengarang favoritku itu lahir tanggal 29 Februari sehingga ultahnya hanya bisa dirayakan 4 tahun sekali. Namun apa hendak dikata, cuaca buruk dan kondisi kesehatan keluarga tidak memungkinkanku untuk bepergian pada saat itu. Padahal sudah sempat kupegang hadiah ulang tahun berupa sandang warna hitam dan titipan kartu ucapan dari Elga, penggemar juga asal Tuban.
Bulan ini kesempatan lain datang. Adik iparku menikah dengan pujaan hatinya di kota Semarang. Sehari sesudah acara selesai, kami berziarah ke Taman Doa Gua Maria Kerep Ambawara. Panti tempat NH Dini berdiam, Panti Langen Wredhasih, terletak di Desa Lerep Ungaran yang hanya berjarak 30 menit perjalanan dari Semarang Atas. Setelah menelepon 108, bertanya ke Gramedia Pandanaran dan panti jompo lain di Ungaran, akhirnya aku mendapatkan ancar-ancar lokasi panti tersebut.
Perjalanan ke Desa Lerep sebetulnya mudah. Dari alun-alun Ungaran berbelok ke barat memasuki Jalan Kaligarang lalu berbelok lagi ke kanan memasuki jalan sempit. Saat itu matahari masih cukup terang sehingga kami bisa dengan jelas membaca petunjuk-petunjuk jalan menuju panti ini.
Jalan-jalan yang curam sempat membuatku pesimis, jangan-jangan lokasinya mengenaskan dan kotor. Apalagi aku teringat ada pemberitaan di internet beberapa waktu yang lalu bahwa NH Dini menderita gangguan kesehatan dan membutuhkan uluran bantuan untuk pembiayaannya. Apakah beliau saat ini dalam kondisi kesulitan finansial sehingga harus pindah ke lokasi yang terpencil seperti ini, yang alamat dan nomornya tidak tercatat di buku telepon?
Ketika akhirnya kami tiba di panti, ada terselip perasaan lega. Bangunan panti terlihat baru dan terawat. Pemandangannya indah, hawanya sejuk. Belakangan baru aku tahu bahwa Panti Langen Werdhasih ini adalah panti lanjut usia eksklusif yang diresmikan tahun 2005. NH Dini sendiri masuk ke tempat tersebut atas sponsor dari Bu Mardiyanto, istri H. Mardiyanto (mantan gubernur Jawa Tengah yang sekarang menjabat sebagai Mendagri dalam kabinet SBY). Panti ini memiliki 5 paviliun dan 13 kamar seharga masing-masing Rp 1.25 juta dan Rp 1juta per bulan (termasuk makan dan cuci pakaian).
NH Dini memperoleh tempat yang istimewa berupa sebuah rumah kecil yang terpisah dari bangunan utama dengan taman dan lahan kosong yang cukup lebar yang menjanjikan sirkulasi udara yang baik.
Dari Pak Mariono, si penjaga rumah yang kutitipi kartu dan kado ultah itu, ketahuan ternyata Bu Dini sedang bepergian ke Perancis selama 1 bulan. Ini menjawab tanda tanya mengapa Bu Dini tidak membalas 3 sms yang kukirim padahal biasanya beliau rajin menanggapi sms dan surat dari para fansnya.
Meski kecewa, aku cukup gembira bisa melihat-lihat situasi tempat tinggal Bu Dini dengan agak leluasa. Ada gapura di depan rumah yang ditanami sejenis melati yang beraroma kuat sekali. Di teras ada satu set kursi terbuat dari bambu –yang ditumpuk-tumpuk, menandakan penghuni sedang tidak berada di rumah. Untuk bel rumah ada kentongan berbentuk bebek kayu yang unik. Beberapa pot berbentuk bulat dengan mulut lebar diisi air dan diletakkan di halaman.
Aku memperoleh kesan pengarang favoritku ini sangat menghargai privasi. Setiap jendela diberi teralis warna besi tempa dengan motif bunga sebagai pusatĀ perhatiannya. Halaman rumah kecil ini tidak berpagar tetapi rumah tanaman dan pagar hidup yang ditata di sekelilingnya jelas-jelas menunjukkan jarak antara bangunan kediaman dengan alam sekitarnya. Banyak jenis bunga yang tidak kuketahui namanya tumbuh di sini. Sungguh asri, sejuk dan nyaman.
Entah kapan aku akan bisa bertemu dengan NH Dini. Namun semoga suatu hari jalan hidup kami bertemu, sebelum Yang Punya Hidup menyatakan akhir usia kami.
Paiton, 17 Juni 2008
June 18th, 2008 at 6:53 pm
Baru tau NH Dini sekarang tinggal di panti. Tapi baca deskripsimu tempatnya sepertinya indah. Kalau bisa berpergian ke Perancis berarti kesehatan beliau masih mendukung kan?
June 19th, 2008 at 11:49 am
Memang NH Dini sudah cukup lama menetap di panti jompo. Sebelumnya beliau tinggal di Graha Wredha Mulya, Jogjakarta. Baru sekitar 2 tahun ini beliau kembali ke Semarang.
Cerita hidup NH Dini yang cukup lengkap bisa dibaca di wikipedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Nh._Dini.
Kelihatannya memang akhir-akhir ini kesehatan beliau cukup baik sampai bisa melakukan perjalanan ke luar negeri. Kita tunggu saja karya-karya NH Dini berikutnya.
July 21st, 2008 at 10:00 am
What a nice surprise. Last week I received a postal letter from Ibu Dini. The content is rather short, but she cut the introduction and jumped directly into she was recently doing. Straightforward person, you can tell.