Selamat Datang, Sayang (Episode Hidup yang Baru)

Tanggal 19 April 2008 adalah hari yang bersejarah. Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku dan pria terkasih hidup di bawah satu atap. Pernyataan ini tidak 100% betul karena dulu-dulunya kami pernah juga tinggal bersama dalam jangka waktu yang lumayan lama, misal seperti ketika aku cuti hamil, melahirkan dan menyusui. Saat lain adalah ketika penjaga anakku pulang dan aku sengaja mengambil cuti panjang untuk menjaga anak. Hanya saja pada saat-saat itu aku merasa sebagai “tamu” di daerah kekuasaan suami. Banyak barang yang aku tidak tahu tempatnya, perabot ditata dengan cara yang berbeda. Pria terkasih pun memperlakukan kami mirip tamu: sehari sebelum kami datang ia akan bersih-bersih dan mengganti sprei. Besok paginya ia keluar membeli soto ayam atau pecel untuk serumah. Di hari Minggu ia mengantar kami ke tempat pemberangkatan bus, atau sebaliknya aku yang mengantarnya ke jalan besar, bergantung dari siapa yang berkunjung ke mana. Mulai Senin sampai Jumat, kami berkutat dengan rutinitas dan dunianya sendiri.

Kali ini berbeda. Kami membuat keputusan untuk tinggal dalam satu kota, satu rumah. Hari pertama ia datang, pria terkasih bertanya apa yang aku rasakan atau pikirkan. Jawabku: aku deg-degan.

Kok bisa? Ya, aku tidak yakin bagaimana caranya menjadi istri penuh waktu. Apa yang harus aku lakukan saat bangun tidur. Bolehkah sepulang kerja aku langsung bersantai-santai ataukah ia mengharapkanku untuk menyiapkan sesuatu untuknya. Bagaimana kalau aku harus menyelesaikan pekerjaan dan pulang lebih malam. Hal-hal remeh yang sebetulnya menggelikan untuk pasangan yang sudah menikah selama 5 tahun.

Anakku beradaptasi dengan luar biasa baik. Ia tidak merasakan sedikit pun kejanggalan dengan perubahan suasana ini. Bahkan ia bersikap seolah-olah bapaknya tidak pernah berada di tempat lain. Pembawaannya menjadi lebih periang, banyak bicara, banyak bertanya. Ada hal-hal yang dia merasa lebih asyik dilakukan bersama-sama dengan bapaknya daripada dengan orang lain. Ia bahkan menunjukkan minat pada mobil saat bapaknya mengutak-atik. Jika digoda, "Bapak pulang Surabaya ya?" maka dengan tegas ia menjawab: "NGGAK!"

Menyenangkan rupanya hidup bersama dalam satu rumah. Belanja ke pasar pagi berdua, jalan pagi, olah raga bersama. Aku bersyukur karena suami sempat dicobai dengan pankreatitis karena hal itu memudahkan kami mengambil keputusan. Aku bersyukur atas berbagai peluang yang diberikan ke hadapan kami sebagai saluran rezeki. Terlebih aku bersyukur atas dukungan dan doa orang tua yang tidak putus-putusnya supaya suatu saat kami dapat berkumpul sebagaimana lazimnya pria dan wanita yang berkeluarga.

Kini saatnya menyongsong masa depan dengan perspektif yang baru. Semoga Allah Yang Maha Baik memberkati setiap langkah kami. Amin.

Paiton, 25 April 2008

2 Responses to “Selamat Datang, Sayang (Episode Hidup yang Baru)”

  1.    Anak Says:

    jadi ikutan hepi
    ikut ngerasain cerah pagi

    best wishes,
    Agung

  2.    Dian Says:

    Congrats !
    It is the best for a child to grow up with both parents under the same roof…. to become a more solid human being.

    Good luck for the business too…

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.