I’m All Ears
Ada masanya aku pandai berkata-kata. Kelebihan ini dimanfaatkan oleh orang-orang di sekelilingku untuk berbagai keperluan: menyanyi di resepsi perkawinan (saat itu aku belum puber dan menderita problem dengan pita suara), menjadi MC di berbagai kesempatan, komandan upacara, bahkan aku pernah didapuk menjadi pembicara pelatihan. Kupikir kelebihan itu akan terus melekat padaku. Bukankah sanguinis adalah orator sejati, pandai berbicara, suka ribut, suka bergerak-gerak dengan heboh. Rupanya aku keliru.
Setelah sekian tahun aku mencoba lagi untuk berbicara di depan publik. Malu rasanya. Entah karena kurang persiapan atau memang sudah ‘kaku’, perkataan yang keluar dari mulutku seperti kaset rusak: diulang-ulang dan tidak menarik. Oh, ke mana perginya talenta itu?!
Mungkin ini adalah jawaban doaku sendiri. Berkali-kali aku mengutuki diriku sendiri, menyesal karena aku cepat berkomentar tanpa berpikir panjang. Aku pernah berdoa, ya Tuhan bantulah aku supaya aku bisa menjadi orang yang lebih sabar, lebih lembut dan mau mendengarkan. Jika aku sekarang menjadi seperti ini, mungkin ini adalah peringatan bahwa aku punya 1 mulut dan 2 telinga. Kini saatnya mengembangkan talenta yang lain: menjadi pendengar dan teman yang baik.
So now I am all ears.
P.S. God, may I just be a good reader? Reading and giving response to sms, emails or letters seems a lot easier than being a listener! For sure it is a lot quicker and less complicated! No?
Paiton, 25 April 2008