Pankreatitis, Jangan Datang Lagi
Minggu lalu pria terkasih harus tergolek di rumah sakit karena radang pankreas. Pankreatitis, begitu penyakit ini lazim disebut, ditandai dengan rasa nyeri yang amat sangat pada ulu hati dan perut yang disebabkan oleh enzim-enzim pencernaan (amylase dan lipase) yang tidak berhasil mencapai usus 12 jari dan malahan menyerang/ menyakiti sel-sel tubuhnya sendiri. Pada tahap kronis, pankreatitis bisa berakibat ketidakmampuan pankreas memproduksi insulin, dengan kata lain: diabetes mellitus.
Terapi penyembuhan pankreatitis adalah dengan mengistirahatkan organ-organ pencernaan dengan melakukan puasa total (pada suami puasa total ini mencapai 4 x 24 jam, tidak boleh ada makanan yang masuk lewat mulut selain air putih tawar), memberikan anti nyeri dosis tinggi untuk mengurangi rasa sakit, menekan gas lambung yang muncul dari lambung kosong dengan obat-obatan, sambil menunggu enzim-enzim pencernaan kembali ke level normal. Setelah 4 hari, mulailah diberikan nutrisi lewat mulut lagi. Mulai dari buah-buahan, bubur tepung beras + gula merah, bubur tim, nasi lembek sampai nasi kasar. Segala yang mengandung lemak/kolesterol tinggi harus diatur seminimal mungkin.
Menurut Wikipedia (buka http://en.wikipedia.org/wiki/Acute_pancreatitis), penyebab pankreatitis bisa disingkat menjadi “I get smashed”, yaitu:
- I - idiopathic
- G - gallstone. Gallstones that travel down the common bile duct and which subsequently get stuck in the Ampulla of Vater can cause obstruction in the outflow of pancreatic juices from the pancreas into the duodenum. The backflow of these digestive juices causes lysis (dissolving) of pancreatic cells and subsequent pancreatitis.
- E - ethanol (alcohol)
- T - trauma
- S - steroids
- M - mumps (paramyxovirus) and other viruses (Epstein-Barr virus, Cytomegalovirus)
- A - autoimmune disease (Polyarteritis nodosa, Systemic lupus erythematosus)
- S - scorpion sting - Tityus Trinitatis - Trinidad/ snake bite
- H - hypercalcemia, hyperlipidemia/hypertriglyceridemia and hypothermia
- E - ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio-Pancreatography - a procedure that combines endoscopy and fluoroscopy)
- D - drugs (SAND - steroids & sulfonamides, azathioprine, NSAIDS, diuretics such as furosemide and thiazides, & didanosine) and duodenal ulcers
Sebagai bagian dari prosedur perawatan, dokter melakukan berbagai macam tes dan pemeriksaan (tes darah lengkap, foto thorax, foto panoramic gigi, USG, MRI). Namun demikian, tidak ditemukan gangguan fisik yang serius. Tidak ada infeksi, pembesaran, penyempitan, penyumbatan apa pun. Ini bukan yang pertama kalinya suami harus “ngamar” karena problem yang sama tetapi entah mengapa dokter tidak bisa memberikan “hard evidence” mengenai penyebab keluhan yang berulang ini. Pria terkasih bukan perokok, tidak mengonsumsi alkohol, dan sudah membatasi konsumsi makanan yang berlemak tinggi. Tidak ada batu atau virus yang umum menjadi penyebabnya. Asam urat, trigliserid, ALP semua normal. Gigi: sangat baik, tanpa lubang atau tanda-tanda infeksi. Lha kalau begitu, apa yang salah?
Satu-satunya kesimpulan logis yang bisa disampaikan oleh dokter adalah bahwa suami memiliki masalah berat badan. Tidak terlalu parah, masih jauh dari bodi pegulat sumo namun ternyata kelebihan bobot yang sekian kilogram itu cukup menyebabkan problem metabolik pada tubuhnya.
Jalan mengatasi kelebihan berat badan tentu saja diet dan olah raga. Mengurangi pemasukan, menambah pengeluaran kalori. Jika porsi makan normal 2000 kalori per hari, pada suami diturunkan menjadi 1500 kalori per hari. Sengaja dibuat defisit supaya tubuh menggunakan cadangan lemak tubuh sebagai pengganti. Sengsara? Ya memang ada rasa lapar. Beruntung dalam proses perawatan disediakan konsultan gizi yang mengajari bagaimana mengatur pola makan yang berimbang dan berdiet secara benar.
Dalam tulisan-tulisan berikutnya, akan aku bagikan beberapa informasi yang disampaikan oleh sang konsultan gizi. Semoga membawa manfaat.
N.B. Pria terkasih saat ini sudah berada dalam keadaan sehat di rumah namun masih harus menjalani diet makanan rendah kolesterol. Mohon doa dari semuanya.
Paiton, 10 Maret 2008