Kabar Terbaru Dari NH Dini - Kini Melukis

December 30th, 2008

Ini artikel yang kutemukan di http://versipdf.jawapos.co.id/. Semoga seniman favorit kami, Ibu Dini, selalu diberkati kesehatan dan kreativitasnya. Mudah2an tanggal 1 Maret 2009 jumpa fansnya jadi ya. Kalau iya, yuk kita rame2 ke Semarang!

Shirley

Paiton, 30 Desember 2008

Jawa Pos, 30 Desember 2008

Dikutip dari: Jawa Pos, 30 Desember 2008

Pengharapan

December 2nd, 2008

Tanggal 1 Desember 2008. Hari AIDS sedunia. HBO menayangkan film “Life Support.” Queen Latifah memerankan Ana Wallace, tokoh sentralnya. Ana menjadi junkie saat ia berusia 25 tahun, tertular virus AIDS dari suaminya, harus menyerahkan hak pengasuhan anak kepada ibunya, mengandung anak lagi yang syukurnya terhindar dari virus mengerikan itu berkat AZT. Ia bekerja sebagai relawan di LSM penyadaran bahaya AIDS, berjalan kaki terpincang-pincang ke mana-mana dengan menyeret sebuah koper kecil penuh berisi brosur dan kondom (yang dibagikannya kepada setiap orang termasuk pacar anaknya yang baru sekali bertemu). Setiap hari ia menjalani konsekuensi pilihan hidupnya: konflik dengan pasangan, anak, orang tua dan lingkungan sekitar. I don’t know how many people out there have watched this film. Certainly not too entertaining as it talks about AIDS, the most feared disease of the century. But it makes me think. When a film can do that, giving you impression and makes you think, it’s the sign of good story. Bless you, Latifah.

Film ini diambil dengan latar belakang zamanku. Zaman kita yang lahir di tahun 60 & 70-an. Generasi yang mulai berpikiran terbuka terhadap banyak hal. Lebih permisif terhadap penggunaan narkotik dan seks bebas. Tidak terlalu shock lagi mengetahui orang-orang di dalam inner circle kita “married by accident”, aborsi, atau mati karena overdosis. Generasi yang sekarang sudah menjadi orang tua bagi generasi berikutnya. Kita mulai menuai buah dari keputusan-keputusan kita di masa lalu berkenaan dengan pasangan hidup, pekerjaan, gaya hidup, cara mendidik anak dan seterusnya.

Dengan jujur aku mengatakan: aku bukan orang beragama yang baik. Dalam benakku, Yesus mengajar selama 3 tahun. Dalam 2000 tahun perjalanan, ada improvisasi-improvisasi yang dilakukan otoritas gereja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul kemudian. Tidak semua improvisasi (baca: dogma) itu kusetujui, namun aku memilih pasif dan berlagak dogma itu tidak ada. Bersama dengan waktu, orang-orang suci makin suci, ajaran-ajaran makin terlegitimasi dan tidak terbantahkan.  Siapa yang tahu sebetulnya apa yang benar dan apa yang salah?

Makin banyak kubaca karya sastra yang mengemukakan realisme. Kesadaran diri. Penerimaan terhadap sekeliling. Penyakit AIDS, ebola dan kanker ada karena memang waktunya ada. Perceraian terjadi karena sudah waktunya. Kukagumi kepandaian mereka-mereka yang jelas jauh di atasku dan berani mengemukakan pendapat dengan cara yang berbeda. Namun sisi diriku yang satu itu tidak bisa menerima. Haruskah kita begitu pasrah? Haruskah kita menundukkan kepala kepada hukum alam. Bagian diri kita yang religiuslah yang memungkinkan kita untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Memberikan pipi kanan saat pipi kiri kita ditampar. Memaafkan musuh. Tidak membunuh seseorang yang menghabisi keluarga kita.

Meski tidak disiplin, aku memutuskan untuk bertahan dalam keyakinanku. Seorang penulis muda mengatakan agama itu baginya hanyalah cangkang, rumah sementara bagi spiritualitas yang menuju Tuhan yang satu. Aku belum sampai ke tahap itu. Masih kurasakan keintiman dengan Dia yang menjagai aku. Ilah lain begitu asing dan jauh. Lebih dari itu, dalam keyakinanku kutemukan harapan. There’s something out there that is greater than all these lethal diseases combined together.

Banyak kebahagiaan di luar sana yang bisa kita kejar. Aktualisasi diri. Kebahagiaan individu. Kenikmatan berada dalam lingkup kenyamanan kita sendiri. Kejauhan fisik dengan tetangga, kedekatan emosi dan ego pada seseorang di dunia maya. Banyak. Pertanyaannya: akankah kau menemukan kebahagiaan sejati di sana.

Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (Matius 7: 8-12)


Paiton,  3 Desember 2008

Sore Throat

December 2nd, 2008

Sudah sejak akhir pekan lalu rasa sakit di tenggorokanku menjadi tidak tertahankan. Nyeri yang menjalar mulai dari pangkal hidung, liang telinga dan kerongkongan dibarengi rasa ngilu di sekujur otot-otot tubuhku akhirnya membuatku menyerah. OK, let’s go to the doctor. Dan meskipun aku tidak suka menelan berbagai macam pil, bukan karena phobia terhadap obat tetepi semata-mata karena aku membayangkan ginjalku harus bekerja esktra, kutelan juga antibiotik-penghilang nyeri-pengering dahak-vitamin plus obat hormon yang semuanya berjumlah 7 butir itu.

Istirahat di rumah tidak hanya menghilangkan bengkak-bengkak di wajahku tetapi juga membawa hikmah yang lain. Saat sakit begini, aku betul-betul menikmati istirahat dan berbagi waktu dengan Naomi. Mulai dari mandi pagi, memilih-milih dan memakaikan baju, menyisir dan memberikan bedak, sarapan bersama. Putriku juga tampak menikmati segala saat-saat yang langka ini, bersama-sama dengan mama dan papa di siang hari. Sepanjang hari dia tidak rewel, tidak membantah, makan banyak, bahkan dia berdoa sendiri tanpa disuruh! Sore tadi aku menyuruhnya bermain atau bersepeda di luar rumah, ia melangkah keluar sebentar lalu balik lagi dan berkata: aku mau tinggal di rumah, hanya supaya ia bisa duduk dan bermain bersama aku dan papanya.

Naomi adalah anak yang mengekspresikan cinta dengan membagi waktu berkualitas bersama. She appreciates word of affirmation, gifts, acts of service and physical touch but mostly quality time. Kadang bila di suatu siang kami terlelap tidur karena kelelahan, dia akan bermain menggendong boneka, mengoceh sendiri atau hanya golek-golek saja selama 1 jam sampai kami terbangun. Tentu saja ada saat-saat di mana bersama teman adalah hal yang mengasyikkan dan mama-papa sebaiknya tidak mengganggu (pernah satu kali ia mengajak jalan-jalan dengan alasan: aku sumpek ma di rumah). Namun terkadang sekedar bersama dan mengerjakan sesuatu yang sederhana berdua sudah memberi kesenangan tersendiri baginya.

By the end of the day, I become thankful to this sickness. Breaking myself off the routine, resting my body, re-charging my spirit and soul. Re-filling my family’s love tanks. Sorting my mind about things. Changing my opinion about “what good literature is” over night simply because what the antibiotics does to my body (I will talk more about this subject later). God just did me a favor by letting this flu getting into me.

So it’s a blessing a disguise for everyone (except my boss, maybe).

Paiton, 3 Desember 2008

Why Parents Go to Work

December 2nd, 2008

Because I go to work from 7 to 4, sometimes I get criticism from our little one.

“Mom, please do not go to work.”

“Dear, I have to go.”

“Why?”

“Because I have to earn money.”

“What for?”

“To buy your milk.”

I repeat the same sentences over and over again until one day …

“Mom, I don’t want you to go o work.”

“Well, I have to earn money to buy your milk.”

“You can withdraw from the ATM machine.”

OK, so now I have to improvise and introduce a new line.

“Well … I have to work, so I can earn money, so I can feed the ATM machine. Otherwise the machine would be empty and we can withdraw nothing from it.”

This afternoon, as I rest at home because of my sore throat, I overheard two toddlers playing and telling stories.

“You know, my mom’s ATM is empty.”

“How come? My parents’ is not.”

Can you imagine how this story will develop thru times as the technology advances?

Paiton, 2 December 2008

Kebaikan Hati

November 28th, 2008

Di sebuah rumah, dua balita bermain dan saling menemani. Tiba-tiba si kecil mengeluh kehausan dan merengek ingin minum susu. Orang-orang dewasa sedang berada di luar rumah dan tidak ada menolong. Yang lebih besar berusaha menghibur. AKhirnya ia menghampiri meja peralatan susu yang memang diletakkan di dalam kamar, mengambil dot, menuang 3 sendok susu, menambahkan air matang (untung ia tidak mengutak-atik termos berisi air panas), mengaduk dan memberikannya pada yang lebih kecil. Sambil merebahkan diri ke kasur, si kecil merebahkan diri ke kasur dan menikmati sebotol susu coklat.

Tak berapa lama dua orang dewasa memasuki rumah dan terheran-heran.

“Siapa yang membuat susunya? Naomi ya?”
Naomi mengangguk.
“Diajarin siapa?”

Putriku sayang. Di usiamu yang masih 3 tahun 8 bulan, sebetulnya kau tidak perlu melakukan ini. Namun kau melakukannya juga karena tidak tega melihat kesusahan anak lain. Mungkin itu sebabnya Tuhan berkata “biar anak-anak datang pada-Ku,” karena anak-anak melakukan kebaikan karena dorongan hati, tanpa memikirkan pamrih.

Suatu hari nanti jika keluarga kita beruntung untuk memperoleh seorang adik bayi kecil, kau akan menjadi kakak yang hebat!

I am proud of you.

Paiton, 29 November 2009

26 November 2008

November 9th, 2008

To me, 26 October 2008 was a historical date. Not because of something heroic happened, but because that was the first day of rainy season in Paiton. For so many months we suffered from the draught. Even wells did not produce enough service water.

For a reason I do not know, this area is drier than any other area on this side of Jawa island. Even Kraksaan, Besuki and elsewhere have had their rain some weeks ago. I always have this fantasy that I or my family will be able to plant something as our contribution to resolve global warming problem but hmm … something is just not right. Is it the air too salty because of its proximity with the beach?

Paiton, 9 November 2008

The Logics of a 3½ Year Old Toddler

November 9th, 2008

One afternoon, after washing her face, feet and brushing her teeth ….

“Mom, I don’t want to wear my dirty shorts.”
“Of course you don’t. And I did not ask you to.”
“Then who asked me?”
She walked out from the bathroom. “Nanny, did you ask me to wear my dirty shorts?”
The nanny answered: “No, I did not.”
“Hmm, then it must be dad who asked me.”

And Daddy was not even home yet!

Paiton, 7 November 2008

A Woman Should Have

October 30th, 2008

A WOMAN SHOULD HAVE ….
enough money within her control to move out and rent a place of her own, even if she never wants to or needs to…

A WOMAN SHOULD HAVE …
something perfect to wear if the employer, or date of her dreams wants to see her in an hour…

A WOMAN SHOULD HAVE
a youth she’s content to leave behind….

A WOMAN SHOULD HAVE .
a past juicy enough that she’s looking forward to
retelling it in her old age…..

A WOMAN SHOULD HAVE ……
a set of screwdrivers, a cordless drill, and a black lace bra…

A WOMAN SHOULD HAVE
one friend who always makes her laugh… and one who lets her cry…

A WOMAN SHOULD HAVE ….
a good piece of furniture not previously owned by anyone else in her family…

A WOMAN SHOULD HAVE …
eight matching plates, wine glasses with stems, and a recipe for a meal, that will make her guests feel honored…

A WOMAN SHOULD HAVE …
a feeling of control over her destiny.

EVERY WOMAN SHOULD KNOW…
how to fall in love without losing herself.

EVERY WOMAN SHOULD KNOW…
how to quit a job, break up with a lover, and confront a friend without; ruining the friendship.. .

EVERY WOMAN SHOULD KNOW…
when to try harder… and WHEN TO WALK AWAY…

EVERY WOMAN SHOULD KNOW…
that she can’t change the length of her calves,
the width of her hips, or the nature of her parents..

EVERY WOMAN SHOULD KNOW…
that her childhood may not have been perfect…but its over…

EVERY WOMAN SHOULD KNOW…
what she would and wouldn’t do for love or more…

EVERY WOMAN SHOULD KNOW…
how to live alone…. even if she doesn’t like it…

EVERY WOMAN SHOULD KNOW..
whom she can trust,
whom she can’t,
and why she shouldn’t take it personally.. .

EVERY WOMAN SHOULD KNOW…
where to go…
be it to her best friend’s kitchen table…
or a charming inn in the woods…
when her soul needs soothing…

EVERY WOMAN SHOULD KNOW..
what she can and can’t accomplish in a day…
a month…and a year…

- Maya Angelou

Silsilah Napitu

August 18th, 2008

Boruku Naomi,
Blog ini kutulis berdasarkan silsilah keluarga kita yang dibuat oleh Oppungmu, yang bernama Drs Urbanus S. Napitu, dikenal juga sebagai Oppung Imanuel Doli yang semasa hidupnya bertempat tinggal di Jalan Mangga 45 Pematang Siantar. Napitu adalah bagian dari Poparan Raja Nai Ambaton (Parna) dari marga Tamba Tua.
Aku berharap bila kau membaca silsilah keluarga ini, kau tahu bahwa kau akanOpungdanomi_1
selalu dicintai oleh Bapak dan Mamak, oppung-oppungmu, bapa tua dan mak tuamu, namboru-namboru dan amangboru-amangborumu, serta semua saudara
kita. Semoga cinta kami membantumu mengatasi masa-masa sulit di dalam hidupmu bahkan pada saat kami sudah berpulang ke rumah Bapa kita di surga.

Perbuatlah yang sebaik-baiknya dengan masa hidupmu. Jangan buat malu keluarga.
Buatlah setiap orang yang mendengar nama Napitu menaruh rasa hormat
karena perbuatan-perbuatan baik keluarga kita. Bila kau berbuat salah,
jangan segan meminta maaf dan bangkit dari kesalahan itu. Bila suatu
hari kau menjadi seorang istri, cintailah suamimu dalam susah dan
senang. Saat kau menjadi seorang ibu, cintailah anak-anakmu setiap
waktu dan dukung mereka menjadi anak-anak Tuhan. Bagaimana pun
kondisimu, bila kau bisa memberikan makanan, rumah tempat anak-anakmu
bernaung, pendidikan dan cinta, kau sudah memberikan yang terbaik bagi
mereka. Untuk pencapaian itu kau sepatutnya berbangga.
Boruku, aku akan selalu mendoakanmu.
Penuh sayang & cinta,
Mamakmu.
Ditulis di Paiton, tanggal 17 Juni 2008

================================

Merapatkan_silsilah_di_ambarita

Tamba Tua memperanakkan: (1) Raja Sitonggor, (2) Raja Lumban Tonga-tonga, (3) Raja Lumban Toruan.

Raja Lumban Toruan memperanakkan: (1) Rumahorbo, (2) Napitu, (3) Sitio. Raja Napitu inilah Napitu yang pertama.

Raja Napitu memperanakkan: (1) Raja Sinalim (Dabukke), (2) Op. Batu
di Batubatu, (3) Op. Bungadapdap (keturunan Op. Bungadapdap adalah (a)
Op. Birdoan, (b) Op. Bungahuta, (c) Op. Patar, (d) Op. Bungalolo).

Oppung Batu memperanakkan: (1) Op. Sotti, (2) Op. Lait, (3) Op. Runiri.

Oppung Lait memperanakkan Op. Marsuratan.

Oppung Marsuratan memperanakkan Op. Niurung.

Oppung Niurung memperanakkan Op. Harungguan.

Oppung Harungguan memperanakkan Guru Sobegu. Inilah Napitu yang ke-7
dalam silsilah keluarga kita. Beliau memperistri boru Purba.

Guru Subegu memperanakkan: (1) Op. Saut, (2) Op. Gogoman, (3) Op. Hanggan.

Oppung Saut memperanakkan Ama Saut.

Ama Saut memperanakkan: (1) Op. Bartong, (2) Op. Marandor, (3) Op. Gijilan, (4) Op. Pussu.

Oppung Marandor memperanakkan: (1) Ama Marandor, (2) Ama Bindu (Rondahain, baptis: Abarham), (3) Biltak (A. Ordong).

Dari saudara oppung kita, Ama Marandor dan istrinya br. Samosir,
lahir anaknya yang bernama Mauas, yang kemudian memperanakkan Asiroha.

Dari saudara oppung kita yang satunya, Ama Ordong, ada 4 orang anak: (1) Tamiang, (2) Lopo, (3) Ringgas, (4) Lomo.

Oppung kita Ama Bindu adalah turunan ke-11 dari Raja Napitu. Beliau
menikahi br. Batuara dan br. Hombing (pengganti). Ama Bindu
memperanakkan: (1) A. Dengan (baptis: Cyrelus), (2) A. Tiomina, (3) A.
Djaurat, (4) A. Benar.

Ama Dengan (baptis: Cyrelus) adalah keturunan ke-12 dari Raja Napitu.
Beliau menikah dengan Helena br. Situmorang dan memperanakkan:Silsilahnapitu

(1) Dengan (A. Hayati). Catatan:
merantau ke Malaysia, menikah dengan boru Melayu. Terakhir menetap di
Pangkalanbrandan sampai meninggalnya. Putra pertamanya, Lokot, hadir
pada pemakaman Oppung Imanuel di Januari 2007

(2) Ardin (Op. Esther). Catatan:
menikah dengan Hermina (Noni) br. Nainggolan. Menetap sampai meninggal
di Tigabolon. Oppung Esther memiliki 2 orang putri yaitu Rosdiana
(menikah dengan Sabar Tobing (alm.), memiliki 2 putri Esther dan Betty,
menetap di Bogor) dan Hotma Aurelia (sampai hari ini tidak menikah,
bertempat tinggal di Siantar menemani oppung kita di rumah Jalan Mangga)
.
(3) Bonjol (A. Domen). Catatan:
menikah dengan boru Sinambela. Menetap sampai meninggal di Ambarita
Pulau Samosir. Memperanakkan 4 laki-laki dan 3 perempuan: Domen, Sius,
Flavianus, Johannes, Friska, Berta dan Krispina
.

Oppungimanuel_1
(4) Urbanus (Op. Imanuel). Catatan:
oppung kita tercinta, menikah dengan Oppung Sovia Tiolina br. Sihotang.
Oppung Imanuel lahir 25 Mei 1933 di Harianboho - Samosir, meninggal 24
Januari 2007 di Pematang Siantar. Oppung br. Hotang lahir 21 November
1939 di Sihotang - Tapanuli Utara.

Selain 4 anak laki-laki, Ama Dengan memiliki 2 orang putri (boru), yaitu:
(5) Maria. Catatan:
menikah dengan marga Matondang. Memiliki 3 orang anak laki-laki dan 3
orang anak perempuan: Rupinus, Christine, Periaman, Melly, Fetty,
Vincentius.

(6) Suster Flavia. Catatan: disebut juga Suster Kym, menjadi biarawati, meninggal dan dimakamkan di Susteran Siantar.

Ama Tiomina memperanakkan Paji.

Ama Djaurat memperanakkan Djaurat dan Djaugan.

Ama Benar memperanakkan Benar dan Abner.

Oppung Imanuel adalah keturunan ke-13 dari Raja Napitu. Beliau
memperanakkan 3 anak laki-laki dan 7 anak perempuan (inilah bapa tua
dan para namborumu):
(1) Bintang Flavia Napitu. Catatan: inilah putri sulung Oppung Imanuel, meninggal pada usia muda, kira-kira 14 tahun.

(2) Cordia Napitu. Catatan: meninggal di usia anak-anak, dimakamkan di Tiga Bolon.

(3) Eritha AS Napitu. Catatan:
menikah dengan Yose Mirza. Setelah menikah amangborumu ini diberi marga
Matondang. Memiliki 2 anak perempuan dan 1 laki-laki: Rizkika Ivory
Permata Mirza (Ivory), Ebony Anggia (Ebony), dan Iqbal
.

(4) Rumondang JK Napitu. Catatan: menikah dengan Subut Halomoan
Pasaribu. Memiliki 1 anak laki-laki dan 1 anak perempuan: Samuel Tumbur
Pandapotan dan Esther
.

(5) Florence (Rotua) Napitu. Catatan: menikah dengan Y.B. Dani Widyoputranto. Amangborumu ini diberi marga Damanik. Memiliki 2 anak: Mateus Jingga dan Deva.

(6) Sabar Hamonangan Viktorianus Napitu. Catatan: menikah dengan mak tuamu, Santy boru Togatorop dari Sidikalang. Memiliki 2 anak laki-laki: Imanuel dan Daniel Ignacio.

(7) M.P.R.D. Gunawan Napitu. Catatan:
inilah bapakmu. Dia menikahi aku, Shirley Theresia. Aku bukan boru
Batak tapi boru Tionghoa, dari marga The. Kami memperoleh seorang
putri, yaitu kau, Josephine Naomi Solia Napitu
.

(8) Petrus Napitu. Catatan: meninggal pada usia bayi, hanya
beberapa jam setelah dilahirkan. Bapa udamu ini dimakamkan dalam
kompleks pekuburan yang sama dengan Oppung Imanuel dan Namboru Bintang.

(9) Pinondang Mauli Imelda Napitu. Catatan: menikah dengan Kamson Sianipar. Memiliki 2 anak: Michael (Mike) dan Juan.

(10) Hendrika Goretty Sri Rejeki Napitu (Kiki). Catatan: menikah dengan Vodegel, Ign. Rido Desanda dari Semarang.

Bapak tua dan bapakmu adalah keturunan ke-14 dari Raja Napitu. Itu berarti kau adalah keturunan yang ke-15.

Setiap orang Batak menarik silsilahnya dari Raja Batak. Terdapat
kesimpangsiuran mengenai silsilah anak cucu Raja Batak tetapi inilah
yang disimpulkan oleh Oppung-mu (lihat foto). Sianrajabatak

1) Raja Batak
2) Raja Sumba
3) Raja Naiambaton
4) Op. Tuan Nabolon
Keturunan ke-5 adalah: 5a) Bolontua, 5b) Tamba Tua, 5c) Saragi Tua, 5d) Muntetua, 5e) Naharpun.
Keturunan ke-6 dari jalur Tamba Tua adalah: 6a) Raja Sitonggor, 6b) Raja Lumban Tongatonga, 6c) Raja Lumbantoruan.
Keturunan ke-7 dari Raja Lumbantoruan adalah: 7a) Rumahorbo, 7b) Napitu, 7c) Sitio.
Untuk selanjutnya lihat silsilah anak cucu Napitu.

Catatan Oppung Imanuel:
- Molo sian Si Rajabatak sahat tu na
manuraton nomor pa 19 hon ma (artinya: kalau dari si Rajabatak sampai
kepada yang menulis nomor ke-19 lah ini)
- Molo sian Napitu = no: 13 ma (artinya: kalau dari Napitu no. 13 lah)

Bikin Bolu Kukus

August 18th, 2008

Sekarang kami punya situs baru: http://tokorotimanies.blogspot.com/. Silakan berkunjung dan jangan lupa menulis pesan, ya.

Ada teman FS yang pernah mengkritikku karena tidak bisa bikin kue. "Shame on you", begitu isi emailnya. Wah, dikomporin begitu terus terang memang bikin penasaran. Masak orang lain tapi aku enggak? Cuma … dari mana mulainya ya?
Beberapa buku resep dan tabloid kuliner yang kubeli tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Buku-buku itu mangkrak, nganggur tak tersentuh dan hanya mengumpulkan debu. Beberapa bahkan hilang entah ke mana.
Akhirnya aku bergabung di sebuah milis yang dikelola oleh Ibu Fatmah Bahalwan. Puji Tuhan dari milis ini aku banyak sekali mendapatkan ilmu-ilmu baru.
Hari libur tanggal 18 Agustus kuisi dengan membuat dua buah penganan: roti gambang dan bolu kukus ketan item. Niatnya sih buat dijual keesokan harinya. Apa daya, ternyata rasanya uenakk, akhirnya habislah dimakan sendiri orang rumah hehe. Pokok-e, Te O Pe - Be Ge Te, dah!
Bagi yang kepengen eksperimen, ini dia resepnya Bolu Kukus Ketan Item. Spongy banget, nggak ada bantatnya sama sekali.

Pict0136

Bolu Kukus Ketan Item
Sumber: milis NCC

Bahan:
350 gr   Tepung ketan item
250 gr    Gula pasir
5 butir   Telor
1 sdm   TBM (emulsifier)
200 ml  Santan kental instan
150 ml  Minyak goreng

Cara membuat:
- Telor, gula, emulsifier dikocok dengan mixer sampai kental dan pucat.
- Masukkan tepung ketan item sampai habis. Masukkan minyak goreng. Terakhir masukkan santan kentalnya. Kocok hingga rata.
- Letakkan di loyang ukuran 22 cm yang sudah dilapisi kertas roti, margarin dan ditaburi sedikit tepung.
- Kukus dengan uap yang banyak. Jaga supaya air tidak menetes ke adonan dengan menutup loyang dengan serbet. Kukus selama 20 menit hingga masak betul dan tidak mudah basi.
- Untuk: 16-18 potong.

Paiton, 18 Agustus 2008